Senin, 04 Januari 2010

Memaknai Pendidikan

Memaknai Pendidikan

Oleh : Akhmad Fakharuddin

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.

Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah Subhanaha watta’alla dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.

Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut William F (tanpa tahun) Pendidikan harus dilihat di dalam cakupan pengertian yang luas. Pendidikan juga bukan merupakan suatu proses yang netral sehingga terbebas dari nilai-nilai dan Ideologi.
Kosasih Djahiri (1980 : 3) mengatakan bahwa Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia/anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya (civilized).

Dari pengertian tersebut bahwa pendidikan merupakan upaya yang terorganisir memiliki makna bahwa pendidikan tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada tahapannya dan ada komitmen bersama didalam proses pendidikan itu. Berencana mengandung arti bahwa pendidikan itu direncanakan sebelumnya, dengan suatu proses perhitungan yang matang dan berbagai sistem pendukung yang disiapkan. Berlangsung kontinyu artinya pendidikan itu terus menerus sepanjang hayat, selama manusia hidup proses pendidikan itu akan tetap dibutuhkan, kecuali apabila manusia sudah mati, tidak memerlukan lagi suatu proses pendidikan.

Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas/pendekatan manusiawi/humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik–non fisik : emosi–intelektual ; kognitif–afektif psikomotor), sedangkan pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia yang potensial, (mempunyai kemampuan kelebihan – kekurangannya dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang – hangat – kekeluargaan – terbuka – objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga.

Melalui penerapan pendekatan humanistik maka pendidikan ini benar-benar akan merupakan upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta dunia kehidupan dari segala liku dan seginya.

 

 

Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu :

  1. Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat.
  2. Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
  3. Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri).
  4. Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
  5. Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.

Menurut Tilaar (2000 : 16) ada tiga hal yang perlu di kaji kembali dalam pendidikan. Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru akan semakin memegang peranan penting didalam pembentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan seluruh spektrum intelegensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniyahnya perlu diberikan kesempatan didalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik didalam pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sindhunata (2000 : 14) bahwa tujuan pendidikan bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and Civized human being).

Dengan demikian proses pendidikan dapat kita rumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi yang berakar pada nilai-nilai moral dan agama, yang berlangsung baik di dalam lingkungan hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, kini dan masa depan.

Untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani yang diridhoi Allah swt. tentunya memerlukan paradigma baru. Paradigma lama tidak memadai lagi bahkan mungkin sudah tidak layak lagi digunakan. Suatu masyarakat yang religius dan demokratis tentunya memerlukan berbagai praksis pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang religius dan demokratis pula. Masyarakat yang tertutup, yang sentralistik, yang mematikan inisiatif berfikir manusia dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama Islam bukanlah merupakan pendidikan yang kita inginkan. Pada dasarnya paradigma pendidikan nasional yang baru harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global dengan tetap memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah dan Syariatnya. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu, demokratis dan religius yang sesuai dengan kehendaknya sebagai wujud nyata fungsi kekhalifahan manusia dimuka bumi.

Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik dan sekurelistik baik didalam manajemen maupun didalam penyusunan kurikulum yang kering dari nilai-nilai moral dan agama harus diubah dan disesuaikan kepada tuntutan pendidikan yang demokratis dan religius. Demikian pula di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, maka proses pendidikan haruslah mampu mengembangkan kemampuan untuk berkompetensi didalam kerja sama, mengembangkan sikap inovatif dan ingin selalu meningkatkan kualitas. Demikian pula paradigma pendidikan baru bukanlah mematikan kebhinekaan malahan mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan mayarakat dan bangsa Indonesia.

Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
ada tiga ciri pokok belajar yaitu proses, perubahan perilaku dan pengalaman.disamping itu ada beberapa prinsip yg merupakan ketentuan yg harus dijadikan pegangan didalam pelaksanaan kegiatan belajar, yaitu; motivasiperhatian, aktivitas, balikan, dan perbedaan individual.

KREATIVITAS DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

KREATIVITAS DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

MAKALAH

 

 

       Untuk memenuhi tugas mata kuliah Karakteristik Pembelajaran

yang dibina oleh Bpk. Dedi Kuswandi

Oleh

Akhmad Fakharuddin

108 121409945

TEP /A/ 2008

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

APRIL 2009

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta/berkreasi. Tidak ada satu pun pernyataan yang dapat diterima secara umum mengenai mengapa suatu kreasi timbul. Kreativitas sering dianggap terdiri dari 2 unsur, Pertama: Kefasihan yang ditunjukkan oleh kemampuan menghasilkan sejumlah besar gagasan pemecahan masalah secara lancar dan cepat. Kedua: Keluwesan yang pada umumnya mengacu pada kemampuan untuk menemukan gagasan yang berbeda-beda dan luar biasa untuk memecahkan suatu masalah.

Istilah kreativitas digunakan untuk mengacu pada kemampuan individu yang mengandalkan keunikan dan kemahirannya untuk menghasilkan gagasan baru dan wawasan segar yang sangat bernilai bagi individu tersebut. Kreativitas dapat juga dianggap sebagai kemampuan untuk menjadi seorang pendengar yang baik, yang mendengarkan gagasan yang datang dari dunia luar dan dari dalam diri sendiri atau dari alam bawah sadar. Oleh karena itu, kreativitas lebih tepat didefinisikan sebagai suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu seseorang secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan alam.

Para ahli psikologi tidak sependapat mengenai kebutuhan dan motif dasar yang dimiliki manusia untuk berkreasi. Meskipun demikian, imbalan dan penghargaan nyata yang dapat diamati dapat diidentifikasikan sebagai motif manusia untuk berkreasi. Manusia yang menjadi lebih kreatif akan menjadi lebih terbuka pikirannya terhadap gagasannya sendiri maupun gagasan orang lain. Sekalipun beberapa pengamat yang memiliki rasa humor merasa bahwa kebutuhan manusia untuk menciptakan berasal dari keinginan untuk “hidup diluar kemampuan mereka”, namun penelitian mengungkapkan bahwa manusia berkreasi adalah karena adanya kebutuhan dasar, seperti: keamanan, cinta, dan penghargaan. Mereka juga termotivasi untuk berkreasi oleh lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup yang lebih menyenangkan, kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan hidup, dan kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1. Bagaimanakah mengembangkan kreativitas?

1.2.2. Apa sajakah hambatan dalam kreativitas?

1.2.3. Bagaiman pendidikan menghadapi kreativitas siswa?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1. Untuk menjelaskan cara mengembangkan dan meningkatkan kreativitas.

1.3.2. Untuk menjelaskan tentang hambatan dalam kreativitas.

1.3.3. Untuk mengetahui manajemen pendidikan dalam menghadapi kreativitas siswa.

 

II. BAHASAN

2.1. Cara mengembangkan dan meningkatkan kreativitas.
Kreativitas siswa dimungkinkan tumbuh dan berkembang dengan baik apabila lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan sekolah, turut menunjang mereka dalam mengekspresikan kreativitasnya. Begitu pentingnya pengembangan kreativitas siswa tersebut dapat diamati dari bergesernya peran guru yang semula sering mendominasi kelas, kini harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil peran lebih aktif dan kreatif dalam suasana yang menyenangkan (learning must be enjoy). Bagaimanapun akan sulit membangun pemahaman yang baik pada para siswa, jika fisik dan psikisnya dalam keadaan tertekan

Dengan mengetahui kreativitas sebagai sifat hakiki kita sebagai manusia dan memahami bagaimana cara dan proses kita berpikir, kita akan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam memecahkan masalah, mengambil keputusan maupun mengembangkan gagasan atau ide. Kreativitas dalam hal ini tidak terbatas pada pengembangan gagasan atau inspirasi ide, tetapi termasuk kreativitas dalam pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah. Berikut ada sejumlah kiat-kiat untuk mengembangkan kreativitas kita:

Jadilah penjelajah pikiran
Salah satu ciri orang yang kreatif adalah selalu terbuka dengan gagasan atau kemungkinan baru. Namun terbuka dengan hal atau gagasan baru, berbeda dengan proses secara aktif mencari dan mengembangkan gagasan. Kreativitas berarti kita secara aktif mencari dan mengembangkan gagasan secara terus-menerus.

Kembangkan pertanyaan

Bertanyalah tentang apa saja. Kata pertanyaan dalam bahasa Inggris question diambil dari bahasa Latin quarere (yang berarti mencari), sama halnya dengan kata quest (mencari). Kehidupan yang kreatif merupakan upaya mencari terus-menerus (continuing quest). Selalu bertanya merupakan keharusan untuk kita dapat bertumbuh dan berkembang. Jangan menganggap segala sesuatu sudah semestinya (take it for granted), senantiasa pertanyakan dan bertanyalah tentang apa pun yang anda lihat dan anda lakukan dalam kehidupan ini.

Kembangkan gagasan sebanyak -banyaknya
Seorang pemenang hadiah Nobel di bidang Kimia, Linus Pauling pernah mengatakan: ”the best way to get good ideas is to get a lot of ideas.” Cara terbaik untuk mendapat gagasan yang bagus adalah dengan mengumpulkan banyak sekali gagasan. Jika kita senantiasa membatasi dengan satu gagasan, satu jawaban, satu cara, dan satu kehidupan yang kita jalani, kita tidak akan pernah memperoleh hal-hal terbaik yang dapat diberikan oleh kehidupan ini kepada kita. Latihlah pikiran anda untuk senantiasa mencari banyak solusi atau alternatif. Kembangkan kreativitas dan imajinasi anda senantiasa.

Langgar peraturan dan hancurkan kebiasaan lama
Menjadi kreatif seringkali berarti melanggar aturan atau pola-pola lama yang sudah ada, dan mengembangkan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu. Jika kita tidak memperoleh hasil yang baik seperti yang kita inginkan, baik itu dalam hal hubungan, pekerjaaan, maupun bisnis, cobalah untuk melakukan hal yang berbeda. Bagaimana anda mengharapkan hasil atau keadaan yang berbeda dengan apa yang anda miliki sekarang, jika anda tetap melakukan hal yang sama. Jika anda menginginkan hasil yang berbeda, lakukan hal yang berbeda. Keluarlah dari zona kenyamanan (comfort zone) anda dan lakukan sesuatu dengan hidup anda.
Saya dulunya adalah orang yang tidurnya selalu larut malam di atas jam 12 malam dan bangun kesiangan di atas jam 7 pagi. Namun dua tahun yang lalu saya berketetapan untuk mengubah kebiasaan ini. Saya tidur sekitar jam 9-10 malam dan jam 2-3 pagi saya bangun untuk melakukan meditasi dan saat teduh, kemudian menulis. Sehingga saat ini saya adalah salah satu penulis yang produktif dan buku-buku kami adalah buku best selling.

Gunakan imajinasi
Imajinasi kita tidak dibatasi oleh batasan dunia nyata kita. Imajinasi kita tidak mengenal batas dan apa pun yang ditangkap oleh pikiran kita dan kita yakini, akan dapat mewujud menjadi realitas. Imajinasi kreatif kita membantu kita untuk mengeksplorasi pilihan-pilihan atau opsi yang berbeda dan melihat banyak sekali skenario dan peluang hasilnya. Berikut adalah cara menggunakan imajinasi kita untuk mengembangkan gagasan inovatif.

Isilah sumber inspirasi anda
Mengisi sumber inspirasi berarti mengembangkan diri kita untuk lebih waspada, menyeimbangkan kehidupan kita. Karena seperti kata pepatah Zen: ”The bow kept forever taut will break.” Busur panah yang terus menerus ditarik, lama-lama akan patah. Peliharalah keseimbangan antara kerja dan relaks, antara kantor dan keluarga, antara dunia dan akhirat. Banyak sekali mereka yang berhasil dalam bidang kehidupan, menemukan jalan kesuksesan (breakthrough) setelah menarik diri, melakukan kontemplasi dan perenungan.
John Kehoe, penulis buku Mind Power mengatakan bahwa ”when you are idle your conscious mind, your subconscious mind (creative mind) advances full steam ahead.” Jika anda mengosongkan pikiran anda, maka kreativitas kita akan maju ke depan.

2.2. Hambatan untuk menjadi lebih kreatif

Kebiasaan:

Kebiasaan adalah reaksi dan respons yang telah kita pelajari untuk bertindak secara otomatis tanpa berpikir atau mengambil keputusan terlebih dahulu. Biasanya sulit dan tidak enak mengubah suatu kebiasaan, apakah kebiasaan itu baik atau buruk.

Waktu:

Kesibukan merupakan salah satu alasan orang untuk tidak menjadi kreatif. Di lain pihak, ada orang yang mempunyai waktu untuk menjadi lebih kreatif dengan mencari waktu dari 24 jam yang sama yang tersedia bagi setiap orang.

Dibanjiri Masalah:

Sebagian dari kita merasa bahwa kita berhadapan dengan begitu banyak masalah yang penting dimana kita tidak mempunyai cukup waktu dan tenaga untuk mengatasi beberapa masalah secara kreatif. Kita lalu mengabaikan semua masalah dan tidak mau mengolahnya dengan otak kita.

Tidak Ada Masalah:

Kita adalah makhluk pemecah masalah yang terus-menerus menghadapi dan memecahkan sejumlah masalah. Jika masalah kita dipecahkan secara otomatis atau menurut kebiasaan, maka kita tidak akan pernah mengenal masalah tersebut dan kita merasa bahwa kita tidak akan pernah mempunyai masalah.

Takut Gagal:

Kegagalan dapat berbentuk pengasingan, kritik, kehilangan waktu, kehilangan pendapatan, atau kecelakaan. Akan tetapi, lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali.

Kebutuhan akan Sebuah Jawaban Sekarang:

Manusia tidak mau mengalami kesulitan karena tidak memilik suatu jawaban langsung. Ketika suatu masalah dikemukakan, kita secara langsung memberikan sebuah pemecahan. Hanya jika pemecahan pertama tidak berjalan, barulah kita mau mencoba cara yang lain.

Kegiatan Mental yang Sulit Diarahkan:

Banyak diantara kita menemukan kenyataan bahwa mengerahkan tenaga fisik jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengerahkan tenaga mental. Kita biasanya melaksanaan pekerjaan kita selama periode waktu yang cukup lama dengan hanya sedikit berpikir.

Takut Bersenang-senang:

Bagian proses pemecahan masalah secara kreatif mencakup kegiatan-kegiatan yang bersifat santai seolah-olah main-main, tetapi dipikirkan dan dipertimbangkan secara serius. Barangkali ketidaksempatan kita untuk bersantai pada waktu memecahkan masalah ada kaitannya dengan besarnya masalah yang kita hadapi atau adanya perasaan tidak aman yang kita rasakan bila menghadapi suatu masalah.

Kritik Orang Lain:

Secara tak sengaja kreativitas sering terhambat oleh kritik-kritik orang lain. Bila suatu gagasan baru diperkenalkan, kebanyakan gagasan tersebut sering dipatahkan dan diobrak-abrik orang lain. Memang kadangkala hal tersebut penting untuk membantu orang supaya tetap berpijak pada kenyataan, namun seharusnya kritik-kritik tersebut dapat menjadi pendorong bagi perbaikan kreativitas Anda sendiri.

2.3. Manajemen Pendidikan Dalam Menghadapi Kreativitas Siswa

Di lingkungan sekolah perlu diupayakan suatu iklim belajar yang menunjang pendayagunaan kreativitas siswa. Untuk itu, guru-guru perlu memperhatikan beberapa hal.

(1) Bersikap terbuka terhadap minat dan gagasan apapun yang muncul dari siswa. Bersikap terbuka bukan berarti selalu menerima tetapi menghargai gagasan tersebut. (2) Memberi waktu dan kesempatan yang luas untuk memikirkan dan mengembangkan gagasan tersebut. (3) Memberi sebanyak mungkin kesempatan kepada siswa untuk berperan serta dalam mengambil keputusan. (4) Menciptakan suasana hangat dan rasa aman bagi tumbuhnya kebebasan berpikir eksploratif (menyelidiki). (5) Menciptakan suasana saling menghargai dan saling menerima, baik antar siswa maupun antar guru dan siswa. (6) Bersikaplah positif terhadap kegagalan siswa dan bantulah mereka agar bangkit dari kegagalannya tersebut.

Dalam hal ini, E. Mulyasa ( 2003) menekankan pentingnya upaya pengembangan aktivitas, kreativitas, dan motivasi siswa di dalam proses pembelajaran.

Dengan mengutip pemikiran Gibbs, E. Mulyasa (2003) mengemukakan hal-hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajarnya, adalah:

1. Dikembangkannya rasa percaya diri para siswa dan mengurangi rasa takut;
2. Memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas terarah;
3. Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya;
4. Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter;
5. Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.

Sementara itu, Widada (1994) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa, guru dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut :

1. Self esteem approach; guru memperhatikan pengembangan self esteem (kesadaran akan harga diri) siswa.
2. Creative approach; guru mengembangkan problem solving, brain storming, inquiry, dan role playing.
3. Value clarification and moral development approach; guru mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan holistik dan humanistik untuk mengembangkan segenap potensi siswa menuju tercapainya self actualization, dalam situasi ini pengembangan intelektual siswa akan mengiringi pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa, termasuk dalam hal etik dan moral.
4. Multiple talent approach; guru mengupayakan pengembangan seluruh potensi siswa untuk membangun self concept yang menunjang kesehatan mental.
5. Inquiry approach; guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan proses mental dalam menemukan konsep atau prinsip ilmiah serta meningkatkan potensi intelektualnya.
6. Pictorial riddle approach; guru mengembangkan metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil guna membantu meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif.
7. Synetics approach; guru lebih memusatkan perhatian pada kompetensi siswa untuk mengembangkan berbagai bentuk metaphor untuk membuka inteligensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan yang tidak rasional, kemudian berkembang menuju penemuan dan pemecahan masalah secara rasional.

Sedangkan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, menurut E. Mulyasa (2003) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Bahwa siswa akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya;
2. Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai. Siswa juga dilibatkan dalam penyusunan tersebut;
3. Siswa harus selalu diberitahu tentang hasil belajarnya;
4. Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan;
5. Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu siswa;
6. Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual siswa, seperti : perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subyek tertentu;
7. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, rasa aman, menunjukkan bahwa guru peduli terhadap mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.

 

 

III. PENUTUP

3.1. Simpulan

Untuk dapat mencapai sebuah pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pedidikan yang mampu memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Di antaranya adalah manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Masih banyak kita temukan fakta-fakta di lapangan sistem pengelolaan anak didik yang masih mengunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan tentunya kurang mmberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan meguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikan hasilnya. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah.

Dalam pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak dari karakteristik keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkan pada peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan memperhatikan bakat dan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang menjamin kebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif peserta didik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.

Merupakan suatu tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk dapat membina serta mengembangkan secara optimal bakat, minat, dan kemampuan setiap peserta didik sehingga dapat mewujudkan potensi diri sepenuhnya agar nantinya dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi pembangunan masyarakat dan negara. Teknik kreatif ataupun taksonomi belajar pada saat ini haruslah berfokus pada pengembangan bakat dan kreativitas yang diterapkan secara terpadu dan berkesinambungan pada semua mata pelajaran sesuai dengan konsep kurikulum berdiferensi untuk siswa berbakat. Dengan demikian diharapkan nantinya akan dihasilkan produk-produk dari kreativitas itu sendiri dalam bidang sains, teknologi, olahraga, seni dan budaya. Amin

3.2. Referensi

Tilaar, Manajemen Pendidikan nasional ; Kajian Pendidikan Masa Depan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1992.
Munandar, Utami, Kreativitas dan Keberbakatan; Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat, Jakarta : PT. Gramedia Pusataka Utama, 1999.
Husen dan Torsten, The Learning Society : Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1995.
Syah,Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Terbaru, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1999.
Gordon Dryden dan Jeannette Voss, Revolusi Cara Belajar bag.1, Bandung : Kaifa 2000

DIFUSI INOVASI KBK KE LEMBAGA PENDIDIKAN

DIFUSI INOVASI KBK KE LEMBAGA PENDIDIKAN

MAKALAH

 

     Untuk memenuhi tugas mata kuliah Divusi Inovasi Pendidikan

yang dibina oleh Ibu. Dra. Susulaningsih

Oleh

Akhmad Fakharuddin             108121409945

Tossy Aguk Satriangun          1081214099

Hevyana Devi                         1081214099

M. Saifuddin Zuhri                 1081214099

 

TEP /A/ 2008

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

MEI 2009

PENDAHULUAN

Model kurikulum pendidikan di Indonesia hari ini masih belum bisa dilepaskan dari keterlibatan peran pengajar secara penuh. Sejak TK hingga perguruan tinggi para siswa terbiasa duduk mendengarkan guru berceramah. Jika ada yang bertanya, maka si murid dianggap bodoh atau malah ditertawakan. Tanpa disadari, tradisi proses belajar-mengajar seperti ini lambat-laun sudah mendarah daging.

Dalam panduan KBK, dijelaskan bahwa kompetensi sebenarnya merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Penjelasan tersebut menyiratkan apa yang dipikirkan dan dilakukan harus mencerminkan nilai-nilai dasar pengetahuan dan keterampilan dari apa yang didengar, dilihat, dan dipraktikkan baik dari pengajar, buku panduan, buku perpustakaan, media cetak, media massa, laboratorium, maupun dari informasi-informasi lainnya.

Permasalahannya, signifikansi KBK masih diragukan. Hal ini dikarenakan variabel-variabel yang berperan di dalamnya seperti: siswa, institusi sekolah, sarana dan prasarana ternyata masih semrawut dan jauh dari standar kelengkapan. Terlepas dari peran serta variabel yang lain, ada beberapa hal yang mengindikasikan ketidaksiapan dalam menerima KBK:

Pertama, perilaku belajar siswa saat ini masih one way traffic (belajar satu arah). Mereka menganggap bahwa fungsi guru yang seharusnya, yaitu sebagai information sharer dan merupakan ciri khas KBK sudah mulai berkurang. Implikasinya, ketika di luar bangku sekolah dan tidak ada tugas dari guru, siswa cenderung melakukan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang ditekuni. Mereka lebih senang main play station, ngrumpi, dan bermain untuk menghabiskan waktu. Akibatnya, siswa kurang mampu berpikir dan bertindak kreatif karena masih menganggap guru adalah segalanya.

Kedua, motivasi belajar yang  sangat rendah. Siswa saat ini malas membaca buku, kurang berminat mengulang-ulang pelajarannya, bekerja kelompok, dll. Kebanyakan dari mereka lebih senang menyaksikan sinetron, drama, atau nonton konser.

Ketiga, kreativitas dan inovasi siswa di dalam sekolah juga rendah. Hal itu berbanding terbalik dengan esensi dari KBK sendiri yang mengharuskan lulusan memiliki skill dan kreativitas yang tinggi. Kreativitas tersebut baik di bidang organisasi kesiswaan maupun dampaknya bagi masyarakat

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan acuan kurikulum baru baik di sekolah dasar, menengah, bahkan perguruan tinggi, Memberi ruang bagi guru dan siswa untuk bereksplorasi bersama dalam proses pembelajaran. Bahkan KBK menyaratkan bahwa proses pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. Proses pembelajaran harus memberi kesempatan dan ruang yang lebih besar bagi peserta didik untuk dapat bereksplorasi, mengalami, menemukan, dan juga menguji pemahaman sendiri dengan terus-menerus bertanya dan mempertanyakan apa yang dipelajari. Maka dari itu, sudah selayaknya pendidikan diterapkan dalam KBK secara utuh. Sebab ini pintu pertama dalam menumbuhkan sikap kritis, Serta tidak hanya sekadar dijadikan percontohan.  Oleh karena itu, spirit pendidikan serba bertanya akan dapat mengembangkan sikap kritis, membangun kepercayaan diri, menumbuhkan sikap menghargai diri dan memiliki kemandirian berpikir. Begitulah gambaran kecil kondisi pendidikan Indonesia yang pada umumnya setara dengan polemik sistem pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

A. Elemen Difusi Inovasi KBK

     1. Inovasi

Dalam hal ini KBK merupakan hal yang baru bagi target(sasaran). Baru dalam artian belum pasti atau mengandung ketidaktentuan. Karena masih mengandung beberapa alternatif.Dan dengan adanya informasi tentang KBK maka berarti mengurangi ketidakpastian dan memperjelas arah KBK kepada target.

2. Komunikasi

Dalam proses komunikasi ini kami memanfaatkan saluran media massa yang ada di daerah tersebut(radio dan suratkabar) untuk menyampaikan informai tentang adanya seminar penyuluhan. Seminar penyuluhan ini ditujukan kepada semua kepala sekolah. Dan akan membahas tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi(KBK) dengan maksud agar para kepala sekolah ini mengetahui dan menyadari tentang adanya inovasi tentang KBK dan diharapkan mampu menerapkannya pada lembaga pendidikan yang mereka pimpin. Dan untuk lebih mengefektifkan proses komunikasi kami juga menggunakan buku modul(media pembelajaran)tentang KBK yang dibagikan kepada tiap-tiap kepala sekolah untuk lebih memperdalam pemahamam mereka dan bisa dijadikan pedoman bagi tiap tiap sekolah.

3. Waktu

Setelah mengadakan penyuluhan kepada para kepala sekolah sangat mungkin sekali difusi inovasi ini tidak berjalan lancar. Maka kami akan turun ke beberapa sekolah yang di anggap kurang unggul untuk memberikan motivasi dengan pendekatan secara langsung kepada kepala sekolah dan para dewan guru yang ada. Dan kami juga akan turun ke sekolah yang dianggap unggul untuk mengukur sejauh mana perkembangan KBK disekolah tersebut. Dan perlu adanya hubungan antara kami(agen pembaharu) dan para kepala sekolah untuk tindaklanjut lebih jauh atas perkembangan KBK di daerah itu secara keseluruhan.

 

 

4. Warga Masyarakat

Proses difusi melibatkan hubungan antar individu dalam sistem sosial. Maka jelaslah bahwa masyarakat akan terpengaruh dan juga mempunyai pengaruh dalam proses difusi inovasi KBK ini.Dalam hal ini semua lapisan masyarakat mempunyai peranan dalam perkembangan difusi inovasi ini. Warga masyarakat ini disebut anggota sistem sosial. Dengan demikian mereka terikat satu sama lainnya. Maka keberhasilan difusi inovasi KBK ini menjadi tanggung jawab guna mencapai tujuan bersama.

B. Penggunaan Strategi difusi inovasi KBK.

Ketepatan menggunakan strategi merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan efektifitas pelaksanaan dalam proses difusi. Dalam proses ini kami menggunakan beberapa strategi perubahan sosial beserta alasan penggunaannya:

       I.            Strategi Fasilitatif

- Klien memerlukan perubahan dan perbaikan  model pendidikan

- Klien menyadari perlunya mencari target perubahan (tujuan)

- KBK menciptakan peran baru dalam pendidikan.

- KBK merupakan hal yang baru bagi mereka dan belum dikenal sebelumnya

II.           Strategi Pendidikan

- Perubahan sosial ini tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi dilaksanakan secara bertahap dan  berkelanjutan.

- KBK sendiri diharapkan merubah pola tingkah laku yang ada sebelumnya  ke tingkeh laku yang baru

- Perubahan sosial ini desetrai dengan keterlibatan dari berbagai pihak serta berbagai penunjang yang lain.

III.       Strategi Bujukan

- Dimanfaatkan untuk melawan penolakan terhadap perubahan pada saat awal diperkenalkan perubahan sosial yang diharapkan.

- Agen pembaharu tidak memiliki alat kontrol langsung terhadap klien. Oleh karenanya agen pembaharu harus terampil dalam menyampaikan KBK dengan baik dan menarik.

 

C. Tujuan Difusi Inovasi KBK

            - Memberi pengertian tentang KBK dan penerapannya disekolah

            - Merubah sitem kurikulum yang lama dengan KBK

            - Tercipta kerjasama semua pihak agar memilik tanggung jawab bersama dalam pendidikan           

 

PENUTUP

A. Simpulan

Melalui KBK, diharapkan setiap lembaga pendidikan memiliki kekhususan (center excellent) yang berbeda dengan lainnya. Sistem seperti itu seharusnya dapat diterapkan pada semua jenjang di mana lulusannya diharapkan mampu menjadi analis keilmuan yang handal. Bagaimana pun juga, apa yang terjadi di era globalisasi menuntut kondisi yang lebih cepat dan sinergis dalam menghadapi persoalan-persoalan ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.

Memang tidaklah mudah mengubah suatu hal yang sudah menjadi tradisi, terutama di dunia pendidikan. Dibutuhkan kerja keras dan kebersamaan dari semua pihak yang berkepentingan agar pelaksanaan KBK sesuai dengan yang di harapkan.

B. Saran

Dari  simpulan diatas disrankan kepada agen pembaharu agar dapat memahami dengan benar karakter dan keadaan wilayah sasaran(target)setempat agar perubahan social yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

 

C. Referensi

Ibrahim. 1988. Inovasi pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0502/12/opi02.html

 

    

 

 

           

Pendidikan Orang Dewasa Melalui Pendidikan Dan Pelatihan

   Pendidikan Orang Dewasa Melalui Pendidikan Dan Pelatihan

MAKALAH

                 Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Andragogi

yang dibina oleh Ibu Dr. Anastasia W

     Oleh :

 

Akhmad Fakharuddin                     108121409945

Moh. Sirojul Munir                           108121409946

Muhammad Bariksah                       108121409943

Rivaldi Kurniawan                           108121409948

Addin Sudrajat                                 108121409988

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

DESEMBER 2009

 

Bab I. Simpulan

 

1. Pengertian andragogi

Andragogi adalah proses melibatkan peserta didik yang dewasa kedalam suatu struktur pengalaman belajar dan merupakan seni dan ilmu pengetahuan yang membantu orang dewasa dalam belajar. Maka kalau dikumpulkan dapat disimpulkan bahwa andragogi secara harfiah diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Dan dalam andragogi, yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).

 

2. Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu:

-                      Metode Ceramah

-                      Metode Tanya jawab

-                      Metode Diskusi

-                      Metode Demonstrasi

-                      Metode Simulasi

-                      Metode Jigsaw

-                      Metode Kerja Kelompok

-                      Metode Penemuan

-                      Metode Think Pair Share

-                      Metode Think Pair Square

-                      Metode Keterampilan Proses

 

3. Model pembelajaran bagi orang dewasa:

Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif, dalam proses belajar. Maka model pembelajaran bagi orang dewasa sebaiknya menggunakan model konstruktivistik, agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien, dengan cara lebih mengutamakan apa yang peserta didik perlukan dalam kebutuhan belajarnya.

PEDAGOGI

ANDRAGOGI

-                      Anak-anak

-                      Behavioristik

-                      Formal

-                      Perhatian terpusat

-                      Tidak mandiri

-                      Terbimbing

-                     Pribadi yang bergantung kepada  gurunya

-                      Orang dewasa

-                      Humanistik dan konstruktivistik

-                      Non-formal

-                      Pengembangan pikiran

-                      Mandiri

-                      Bertanggung Jawab

-                      Semakin mengarahkan diri

4.

 

 

 

 

 

 

PSIKOLOGI

ANDRAGOGI

-                      Ilmu Kejiwaan

-                      Semua umur

-                      Disiplin ilmu

-                      Ilmu pendidikan

-                      Orang dewasa ( ±22 )

-                      Metode terapan

 5.

 

 

 

Bab II. Hasil Observasi

 

Tempat Observasi       : INDEPENDENT Piranhamas Groups

Bidang  Ahli               : Training Developing Consulting

Sfesifikasi                   : Internet Marketing

Peserta                         : Pengusaha, Karyawan Swasta, PNS.

Alamat                                    : Jl. Ikan Piranha Atas V No. I Malang 65142

 

Pada dasarnya Istilah Seminar, Workshop, Pelatihan, Training, dan Diklat ialah sama. Yaitu penyampaian materi yang khusus kepada peserta didik dalam konsep pertemuan dalam skala besar maupun kecil, dalam waktu yang lama atau singkat, yang bertujuan agar peserta mempunyai keterampilan setelah acara tersebut selesai. Dalam diklat itu sendiri sebenarnya lebih menekankan pada praktek mandiri yang ada dilapangan sebagai hasil terapan dan penilaian sejauh mana tingkat keberhasilan dari diklat tersebut.

 

Pada umumnya, diklat diadakan dalam waktu 5 sampai 7 hari. Bahkan ada yang sebulan atau setahun. Semua itu tergantung pada tingkat kesulitan dan daya tarik dari apa yang akan disampaikan didalam diklat tersebut. Sementara itu diklat terbagi menjadi dua bagian yang harus seimbang. Yaitu : (1) Teori dan (2) Praktek. Dan tentunya mengacu pada standar yang telah ditentukan sebelumnya. Sebagai penilaian maupun evaluasi.

 

Alasan kami memilih Diklat ini karena:

1. Internet Marketing adalah konsep Diklat yang diperuntukkan sebagai mata pencaharian. Dengan kata lain pesertanya adalah orang yang siap atau dalam usia sudah bekerja.

2. Diklat ini menekankan pada keterampilan yang spesifik. Intinya agar keterampilan yang dimiliki tersebut bernilai khusus dan berharga.

Dengan kata lain ada beberapa tujuan dan manfaat yang muncul setelah diklat ini diadakan.

Tujuannya antara lain :

1.  Untuk mendapatkan “pengakuan” proses diklat yakni berupa sertifikat atau semacamnya sehingga akan membantu efektivitas dan produktifitas para peserta dalam menghadapi dunia kerja.

2.  Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini belum banyak diminati masyarakat. Khusunya orang dewasa yang dulunya belum mengenal komputer.

 Manfaatnya antara lain :

1. Membantu mencapai kompetensi lulusan yang professional dibidangnya.

2. Membantu memotivasi dan menekan angka penganguran.

 

Di dalam pelaksanaanya, peserta lebih banyak bertanya saat dia kurang paham tentang materi daripada menunggu waktu dipersilahkan untuk bertanya. Hal itu dikarenakan daya ingat mereka yang cenderung mudah paham dan mudah lupa. Semangat belajarnyapun tidak bisa dimengerti. Karena terkadang terlalu bersemangat atau malah sebaliknya. Maka disini fasilitator sangat mempunyai peran penting dalam segala hal. Kendala yang sering terjadi yaitu pada tingkat kemampuan atau sejauh mana peserta mengenal internet.

 

Disini peserta terbagi menjadi beberapa bagian:

 

A. Begginer

B. Intermediet

C. Expert

 

Dan tentunya cara menangani mereka dalam pelaksanaannya harus dilakukan dengan sabar dan penuh perhatian. Hal ini juga disebabkan karena pada umumnya mereka belum mengenal internet pada zaman mereka ada. Mungkin teknologi juga belum secanggih sekarang. Dan ini merupakan hal yang dimaklumi oleh kita semua.

 

Kelebihan Konsep Internet Marketing di dalam Diklat

1. Internet Marketing tidak memerlukan biaya yang tinggi.

2. Tidak memerlukan Display. Cukup menggunakan sarana yang ada.

3. Bisa dikerjakan diluar jam kerja.

4. Tidak adanya UU, Izin, dan Pajak dalam Internet Marketing.

 

Kekuranggan Konsep Internet Marketing di dalam Diklat

1. Banyaknya Pemikiran negative tentang dunia marketing di internet

2. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang adanya marketing di Internet.

 

Evaluasi

Dalam Internet Marketing ada beberapa bentuk penilaian. Yaitu :

1. Basic Knowledge

2. Trobble Shooting

3. Application

4. Academic Point

Pada dasarnya, semua yang tersebut diatas memiliki acuan dasar dan tujuan sebagai tolak ukur keberhasilan. Tingginya prosentase kehadiran merupakan bukti adanya antusias dari peserta. Begitu juga dalam hal standarisasi penilaian. Serta bimbingan yang merupakan kelanjutan dari rangkaian evaluasi. Tetapi pada pendidikan orang dewasa biasanya bimbingan dilalukan secara tidak langsung. Dalam artian mereka menggunakannya dalam hal pantauan, konsultasi, maupun melihat keberhasilan pesertanya.

Bab III. PEMBAHASAN

 

Inti dari pendidikan adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri untuk berkembang dan matang, dengan mempertimbangkan bahwa mereka juga sebagai makhluk individu dan sosial. Kegiatan pendidikan baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah memiliki daerah dan kegiatan yang beraneka ragam. Pendidikan orang dewasa terutama pendidikan masyarakat bersifat non formal sebagian besar dari siswa atau pesertanya adalah orang dewasa.

Pendidikan dalam konsep Diklat mempunyai banyak pengertian, tetapi secara umum diterima sebagai suatu perubahan perilaku yang cenderung kearah yang lebih baik. Adapun prinsip-prinsip pendidikan yang digunakan pada dasarnya sama dengan apa yang dikembangkan pada beberapa pendidikan dan pelatihan yang menggunakan metode instruksional, tetapi satu hal yang membedakan adalah prinsip-prinsip POD lebih dikenal secara luas.

Prinsip-prinsip dari belajar berkaitan dengan pelatihan dan pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut digunakan di seluruh sektor/area, baik dalam ruang kelas atau sistem magang. Instruksi yang efektif harus menggunakan sebanyak mungkin prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa yang tepat. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan training (pelatihan) dan pendidikan, dan biasanya diterapkan pada situasi kelas formal atau untuk sistem on the job training (magang). Tiap bentuk pelatihan sebaiknya memuat sebanyak mungkin 9 prinsip yang tersebut di bawah ini. Yaitu :

·         Recency

·         Appropriateness (Kesesuaian)

·         Motivation (motivasi)

·         Primacy (Menarik Perhatian di awal sessi)

·         2 – Way Communication  (Komunikasi 2 arah)

·         Feedback (Umpan Balik)

·         Active Learning (Belajar Aktif)

·         Multi – Sense Learning

·         Exercise (Latihan)

 

 

Standar POD atau andragogi di tiap negarapun berbeda. Berikut ini merupakan tabel Perbandingan Tujuan Pendidikan Orang Dewasa di Beberapa Negara :

       

No

Negara

Tujuan

1

Australia

Menekankan tujuan pendidikan orang dewasa pada usaha-usaha

pengasimilasian para pendatang dengan para penduduk yang telah

lama tinggal di Australia.

2

Swedia

Ditujukan kepada pendemokratisan dan menciptakan norma-norma kehidupan masyarakt yang lebih baik.

3

Swiss

Ditujukan untuk menciptakan kehidupan masyarakat lebih berbahagia dan penuh aktivitas.

4

Perancis

Menekankan kepada pendidikan populer bagi masyarakat yang dijalankan secara luas.

5

Israel

Ditujukan untuk mengurangi tantangan antar bangsa-bangsa dan ras dan memerangi atominisasi serta memberikan kehidupan baru kepada masyarakat.

6

Kanada

Meningkatkan kebanggaan dan mengembangkan pengetahuan yang diciptakan oleh bangsa Kanada.

7

Amerika Serikat

Bersemboyankan kepada pendidikan itu dari, oleh dan untuk masyarakat.

8

India

Perbaikan moral, penambahan pengetahuan, meningkatkan efisiensi dalam bekerja, dan meningkatkan tingkat hidup masyarakat.

9

Thailand

Ketahuhurufan, pemeliharaan hidup sehat, kontak sosial dan kebudayaan.

Sumber: Ahmuddipura (1986: hal. 1.16)

 

Prinsip pendidikan juga sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari ‘yang obyektif’, melalui pengamatan atas kenyataan. Dan pada umumnya prinsip tersebut menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah). Inilah yang merupakan inti dari Andragogi. Karenanya hal ini menjadi menarik dan patut untuk dikaji.

Ada beberapa kesenjangan atau hal berselisih yang kami temui antara diklat dilapangan dengan teori andragogi yang telah dikaji sebelumnya, antara lain :

1.  Didalam andragogi peran fasilitator tidak terlalu penting. Dalam hal lain peserta didiklah yang banyak membantu untuk menyempurnakan proses belajar mereka. Tetapi dalam proses diklat hal itu belum sepenuhnya terjadi. Melihat banyaknya presentasi keterlibatan pemateri dan fasilitator dalam proses diklat

2. Dalam diklat itu sendiri hal yang paling utama ialah menekankan keterampilan terpimpin dari proses, hal ini sangat menyimpang dari konsep andragogi yang terkesan memberi keluasan berfikir untuk membentuk suatu konsep dari proses.

3. Dalam andragogi sikap dan perilaku merupakan tolak ukur kedewasaan, akan tetapi hal ini jarang terjadi pada waktu diklat. Kebanyakan dari peserta lebih senang untuk berbicara sendiri atau dalam hal ini fokus mereka dalam memperhatikan materi sangat minim.

4. Diklat itu sendiri merupakan pembelajaran yang berakhir pada suatu titik evaluasi yang cenderung masih memakai nilai rata-rata. Apapun bentuk pembelajaran maka dalam diklat terkesan memaksa peserta dalam menerapkan suatu paradigma yang tersaji. Dengan alasan salah jika mereka tidak sesuai dengan apa yang disampaikan.

5. Didalam diklat, kita akan menemukan suatu konsep ataupun model dari proses diklat itu sendiri. Hal ini sangat berbeda dengan pola andragogi yang terkesan menjadikan peserta menemukan konsep dengan sendirinya dari sumber manapun dan dimanapun.

6. Diklat yang tujuannya orang dewasapun masih terlihat seperti belajar anak-anak. Ribut, pasif, dan kurang bertanya tentang materi yang belum dipahaminya.

7. Diklat belum berhasil secara utuh. Karena banyak yang mengikuti suatu program hanya untuk mendapat sebuah pengakuan atau sertifikat. Menjadikan nilai suatu diklat itu kurang maksimal.

8. Semangat belajar orang dewasa cenderung tidak menentu.

 

Menimbang beberapa hal dari andragogi bahwa :

1. Teori ini merupakan bahan kajian dan terapan yang tidak sepenuhnya berhasil dilaksanakan apabila tidak ditunjang dengan faktor pembantu lainnya.

2. Andragogi juga seakan terlalu memberi kebebasan dan menimbulkan perbedaan yang seringkali ekstrim. Dan sulit untuk mencapai suatu titik temu dari konsep pemahaman serta cara berfikir.

3. Konsep Andragogi lahir bukan dari Negara Indonesia, dan oleh karenanya kebanyakan sumber analisa, sasaran objek serta ragam kultur dan budaya membuatnya terkesan diperuntukkan bagi bangsa barat. Dan belum tepat diterapkan bagi bangsa timur pada umumnya.

4. Manusia sendiri merupakan makhluk yang unik. Memiliki ciri, watak, sifat, dan karakter yang berbeda. Seperti halnya pembelajaran bagi anak dan remaja. Pada andragogi (pembelajaran orang dewasa), masalah yang sering ditemukan tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada pedagogi (pembelajaran anak dan remaja).

 

Dan oleh karena itu maka kami menyimpulkan beberapa hal, antara lain :

1. Semua teori hanyalah merupakan konsep. Pada pelaksanaan dilapangan seperti diklat, seminar, dsb membutuhkan hal lain untuk membantu memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran.

2. Andragogi tidak bisa berdiri sendiri. Oleh karenanya andragogi harus berkolaborasi dengan disiplin ilmu yang lain. Seperti pelajaran Sosiologi untuk lebih memahami kultur dan budaya setempat atau pelajaran Psikologi untuk lebih memahami sifat dan karakter manusia sebelum menerapkan konsep andragogi dilapangan.

3. Tidak semua orang dewasa mampu menjalankan konsep dari teori andragogi ini dengan maksimal. Mereka selalu mempunyai pertimbangan dan alasan berbeda untuk menerima ataupun menolak sesuatu.

4. Pada pelaksanaan andragogi, masih sering dijumpai penyalahgunaan konsep teoritik. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan dan pemberian tanggung jawab.

5. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan seiringnya zaman. Metode andragogi bisa jadi akan lebih terinci atau bahkan memunculkan teori terapan lainnya.

6. Menurut kami, yang terpenting dalam suatu pelaksanaan ilmu terapan bukanlah pada ketepatan metode itu ditujukan, akan tetapi pada kesesuaian metode tersebut ditujukan.

Dan pada akhirnya, semua yang ada pada andragogi adalah benar adanya dan  sangat menarik bagi perkembangan ilmu pendidikan. Teori Belajar Adragogi dapat diterapkan apabila diyakini bahwa peserta adalah pribadi-pribadi yang matang, dapat mengarahkan diri mereka sendiri, mengerti diri sendiri, dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut dirinya. Andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan ideal dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Yang menjadi tolok ukur sebuah kedewasaan bukanlah umur, namun sikap dan perilaku, sebab tidak jarang orang yang sudah berumur, namun belum dewasa. Memang, menjadi tua adalah suatu keharusan dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang tidak setiap individu memilihnya seiring dengan semakin lanjut usianya. Dan bagi pengambil kebijakan dalam hal pembelajaran orang dewasa diharapkan mampu memberikan pertimbangan holistik ke arah pengembangan keterampilan dan peningkatan sumber daya orang dewasa yang berkualitas.