Rabu, 10 Maret 2010

Manajemen Pembelajaran

BAB I

KONSEPSI MANAJEMEN PEMBELAJARAN

A. Pengertian Manajemen Pembelajaran.

Manajemen pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang berupa perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian komponen-komponen program pembelajaran dengan penggunaan ilmu dan seni pembelajaran yang tepat, agar supaya tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

B. Kegiatan Manajemen Pembelajaran

Kegiatan manajemen dapat dikaji dari dua segi, yakni (1) dari segi sasaran kegiatan manajemen, dan (2) dari jenis aktivitas-tindakan manajemen.

Dari segi sasaran atau obyek kegiatannya, obyek manajemen pembelajaran meliputi (1) manajemen komponen-komponen program pembelajaran dan (2) manajemen komponen-komponen iklim pembelajaran, Komponen-komponen program pembelajaran mencakup manajemen :(a) tujuan pembelajaran ( kompetensi dan indicator hasil pembelajaran), (b) materi bahan pembelajaran, (c) komponen strategi pembelajaran, (d) media, sumber dan teknologi pembelajaran, (e) penilaian pembelajaran. Sedangkan manajemen komponen iklim pembelajaran meliputi : (a) manajemen kedisiplinan siswa, (b) manajemen iklim sosial kelas, (c) manajemen iklim sosio-emosional kelas, dan (d) manajemen fisikal kelas

Sementara itu, dari segi jenis aktivitas kegiatannya, kegiatan manajemen dapat ditinjau dari segi: (1) prosedur kegiatan manajemen dan (2) macam-macam kegiatan manajemen pembelajaran. Ditinjau dari prosedur kegiatan manajemen terdapat tiga tahapan kegiatan yang meliputi: (a) tahap perencanaan pembelajaran, (b) tahap pelaksanaan pembelajaran dan (c) tahap penilaian pembelajaran. Sementara ditinjau dari macam-macam kegiatannya, kegiatan manajemen pembelajaran, mencakup aktivitas : (a) identifikasi masalah, (b) diagnosis, (c) perumusan tujuan, (d) pengambilan keputusan, (f) perencanaan, (g) pengorganisasian, (h) kordinasi, (i) pendelegasian,(j) inisiasi, (k) komunikasi, (l) bekerja bersama kelompok, (m) pemecahan masalah, dan (n) aktivitas penilaian,(o) inovasi ( pembaharuan) , (p) penelitian dan pengembangan.

C. Macam-macam Kegiatan Manajemen Pembelajaran

1. Identifikasi masalah, Diagnosis, dan Problem solving

2. Pengambilan keputusan

BAB II

Variabel-Variabel Pembelajaran

A. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya belajar. Penciptaan sistem lingkungan berarti menyediakan seperangkat peristiwa-kondisi lingkungan yang dapat merangsang anak untuk melakukan aktivitas belajar.

B. Faktor-Faktor Penentu Aktualisasi Pembelajaran

Proses pembelajaran bersifat kompleks mengingat aktualisasinya melibatkan dan ditentukan oleh sejumlah faktor. Faktor-faktor pembentuk aktualisasi pembelajaran tersebut meliputi komponen input, proses, output,dan umpan balik.

Komponen input (masukan) adalah siswa yakni peserta didik yang diharapkan mengalami perubahan tingkah laku setelah mengikuti proses pembelajaran. Komponen proses, yakni serangkaian interaksi pembelajaran antara siswa sebagai masukan dengan sejumlah komponen pembelajaran dan sejumlah komponen setting pembelajaran ( manajemen kelas). Sedangkan komponen out-put adalah hasil belajar sebagaimana yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran yang berupa kualifikasi tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai anak setelah mengikuti interaksi pembelajaran. Sementara komponen umpan-balik merupakan komponen yang memiliki fungsi informatif bagi efektivitas pencapaian tujuan dan relevansi dari komponen-komponen yang terkait.

C. Deskripsi Tindak Pembelajaran

a. Dari segi jenis kegiatan guru:

b. Dari segi tujuan belajar yang ingin di capai:

c. Dari segi prinsip realitas dalam pembelajaran

d. Dari segi komponen tingkah laku guru

e. Dari segi kubu-kubu teori belajar, mengajar sebagai:

Valentine (1992: 150--153) menyebutkan beberapa variabel beserta diskriptor performansi guru dalam mengajar.

1. Membuat Persiapan Mengajar yang Tepat

2. Menyiapkan Strategi untuk Mengatasi Hambatan

3. Menyiapkan Materi Pelajaran

4. Memilih Tujuan dan Proses Pembelajaran Secara Tepat

5. Memilih dan Menerapkan Berbagai Teknik Mengajar Yang Efektif

6. Memberikan Kesempatan Belajar Sesuai Dengan Perbedaan Individual Anak

7. Menggunakan Variasi Bahan dan Sumber Yang Efektif

8. Menggunakan Alokasi Waktu Secara Efektif

9. Menunjukkan Kemampuan Memotivasi siswa

10. Menunjukkan Kemampuan Komunikasi Dengan Siswa Secara Efektif

11. Memberikan Evaluasi Umpan Balik bagi Anak

D. Dimensi Pembelajaran Sebagai Sistem

Komponen-komponen pembentuk proses pembelajaran menurut Moedjiono, dkk. (1996:19--20), meliputi berikut ini:

* Siswa

* Guru

* Tujuan

* Metode

* Media,

* Evaluasi

E. Dimensi Tujuan dan Hasil Pembelajaran.

a. Instructional effects,

b. Nurturant effects,

F. Dimensi Manajerial dalam Pembelajaran

a. Instructional Management

b. Classroom Management

G. Dimensi Proses dalam Pembelajaran

a. Tahapan Proses Pembelajaran

v Tahap Perencanaan.

v Tahap Pelaksanaan.

v Tahap Evaluasi.

b. Aspek Pendekatan dalam Pembelajaran

c. Aspek Strategi dan Taktik

d. Aspek Metode dan Teknik Pembelajaran

e. Prosedur Pembelajaran

H. Dimensi Isi-Pesan Pembelajaran

a. Substansi isi pembelajaran.

b. Aspek nilai-nilai formal isi pembelajaran.

I. Dimensi Interaksi-Komunikasi dalam Pembelajaran

BAB III

PEMBELAJARAN EFEKTIF

A. Konsep Keefektifan

Kata efektif sesungguhnya merupakan serapan dari kata effective (bahasa Inggris) yang artinya berhasil guna, berdaya guna, mustajab, manjur, ditaati. Kata effective itu sendiri berakar dari kata effect yang maknanya pengaruh-akibat. Bertolak dari akar kata effect tersebut, maka effective artinya ada pengaruhnya, memiliki pengaruh, berpengaruh -berakibat, mempunyai akibat, tampak akibatnya.

B. Karakteristik Keefektifan Kelas

a. Produktivitas

b. Efisiensi

c. Kualitas pencapaian hasil, kinerja, layanan oleh individual

d. Pertumbuhan dan perkembangan kelas

e. Keadaan absensi oleh siswa, guru dan pengelola yang lain.

f. Turnover

g. Kepuasan guru terhadap pekerjaannya

h. Kepuasan siswa

i. Motivation

j. Morale

k. Kohesif

l. Fleksibilitas dan adaptibilitas

m. Perencanaan tujuan kelas

n. Perumusan dan kesepakatan tujuan bersama

o. Penghayatan terhadap tujuan organisasi kelas

p. Keterampilan manajerial dan kepeminpinan guru

q. Informasi manajemen dan komunikasi

r. Kesiapan kelas

s. Pemanfaatan lingkungan

t. Penilaian oleh entitas eksternal kelas

u. Stabilitas

v. Pemberian kesempatan partisipasi

w. Penekanan untuk Pelatihan dan Pengembangan

x. Penekanan pada Prestasi

C. Efektivitas Pembelajaran

1. Struktur Pembelajaran

2. Motivasi anak

3. Efektasi guru

4. Pertanyaan kelas

5 Memaksimalkan Waktu belajar

6. Penerapan Pembelajaran Konstruktivis

D. Guru yang Efektif

1. Manajemen kelas

2. Direct Instruction.

3. Waktu untuk tugas.

4. Bertanya.

5. Pembelajaran pemahaman.

6. Tingkat kognitif dalam pembelajaran.

7. Pengelompokan anak.

E. Profil Iklim Pembelajaran Efektif

Variabel-variabel guru yang berperanan terhadap efektivitas iklim pembelajaran adalah variabel karakteristik kepribadian, kemampuan dan keterampilan mengajar, keterampilan mengelola kelas, kematangan emosional, dan lain-lain.

1. Profile disiplin kelas yang efektif

2. Profil Iklim Sosial Kelas yang efektif

3. Profil Iklim Sosio-emosional Kelas Yang Efektif

4. Profil Kondisi Fisikal Kelas Yang Efektif

BAB IV

PERFORMANSI GURU YANG DIHARAPKAN SISWA

A. Ekspektasi siswa terhadap guru

1. Karakteristik Kepribadian Guru yang diharapkan

Karakteristik Barr tentang guru yang sukses memiliki dua belas atribut yakni berikut ini:

a. Guru sebagai orang sumber

b. Intelijen

c. Kestabilan emosinya

d. Bijak/ hati-

e. Buoyancy--Optimis,

f. Obyektif

g. Tenaga

h. Dominansi

i. Kemenarikan

j. Kehalusan budi

k. Kerjasama

l. Reliabilitas

2. Harapan Siswa Tentang Kemampuan/kompetensi Guru

v Membuat Persiapan Mengajar yang Tepat

v Menyiapkan Strategi untuk Mengatasi Hambatan

v Menyiapkan Materi Pelajaran

v Memilih Tujuan dan Proses Pembelajaran Secara Tepat

v Memilih dan Menerapkan Berbagai Teknik Mengajar Yang Efektif

v Memberikan Kesempatan Belajar Sesuai Dengan Perbedaan Individual Anak

v Menggunakan Variasi Bahan dan Sumber Yang Efektif

v Menggunakan Alokasi Waktu Secara Efektif

v Menunjukkan Kemampuan Memotivasi siswa

v Menunjukkan Kemampuan Komunikasi Dengan Siswa Secara Efektif

3. Harapan Siswa Tentang Kemampuan Sosial Guru.

4. Kematangan Emosional Guru yang diharapkan Siswa.

5. Harapan Siswa tentang Persepsi dan Sikap Guru

F. Pola Kepemimpinan Guru yang diharapkan.

Kepemimpinan guru di kelas dapat di klasifikasikan menjadi tiga tipe kepemimpinan, yakni tipe otoriter, demokratis, dan leissez faire. Masing-masing tipe kepemimpinan tersebut memiliki implikasi yang berbeda-beda terhadap erbentuknya iklim sosial dan emosional kelas. Kelas yang dipimpin guru secara otoriter, cenderung menimbulkan iklim sosial dan emosional yang kurang menguntungkan bagi belajar anak. Anak di kelas merasa ditekan, tidak memiliki kebebasan berekspresi, dan tidak berani membuat keputusan sendiri.

BAB V

MANAJEMEN PROGRAM PEMBELAJARAN

A. Program Pembelajaran

Program pembelajaran adalah seperangkat tindakan untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Manajemen program pembelajaran ditinjau dari sudut tahapan kegiatannya, terdiri atas (1) kegiatan perencanaan program, (2) pelaksanaan program, dan (3) evaluasi program (Jacobsen, Egen dan Kauchak, 1989:9--12). Sedangkan manajemen program pembelajaran ditinjau dari sudut jenis dan macam-macamnya, terdiri atas (1) program tahunan, (2) program semesteran dan (3) program satuan pembelajaran.

Perencanaan Program Pembelajaran

Evaluasi Program Pembelajaran

Aspek ini berisi kegiatan guru untuk melakukan penilaian terhadap program pembelajaran. Ada tiga sasaran penilaian, yakni: (1) penilaian perencanaan program, (2) penilaian terhadap pelaksanaan program pembelajaran, dan (3) penilaian terhadap program evaluasi pembelajaran.

Model Program Pembelajaran

ü Model Pembelajaran Dasar Glaser

ü Model Pembelajaran Yerold E. Kemp

ü Model Satuan Pelajaran

Komponen-komponen Program Pembelajaran

Ø Komponen Tujuan Pembelajaran

a. Pemilihan materi

b. Evaluasi

c. Siswa

d. Semua Pihak

e. Dapat dilihat lebih jelas, apakah tujuan itu menunjang pencapaian tujuan yang lebih besar. .

Tujuan pembelajaran memenuhi beberapa fungsi yang berguna diantaranya adalah berikut ini.

a. Untuk merencanakan pelajaran.

b. Dalam memilih alat bantu pelajaran.

c. Untuk menetapkan tugas-tugas yang sesuai dengan siswa.

d. Dalam memilih atau menyusun test.

e. Untuk menentukan kapan dan dikumpulkan data yang evaluatif.

f. Untuk menyimpulkan & melaporkan hasil-hasil evaluasi.

g. Untuk dapat menolong siswa menentukan dimana mereka harus pergi sementara mereka berusaha menjadi pelajar yang mampu belajar sendiri.

Klasifikasi Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Domain Kognitif

· Pengetahuan.

· Pemahaman.

· Aplikasi.

· Analisis.

· Sintesis.

· Evaluasi.

Tujuan Pembelajaran Domain Afektif

· Penerimaan

· Memberikan respon ( Tanggapan)

· Penilaian.

· Organisasi.

· Pemeranan/pelukisan watak.

Tujuan Pembelajaran Domain Psikomotor

· Persepsi (Perseption).

· Kesiapan (Set).

· Respon terpimpin (Guided responce).

· Mekanisme (Mechanism).

· Complex Overt Responce.

· Penyesuaian (Adaptation).

· Originasi (Origination).

Ø Komponen Penilaian Awal (Pre-Test)

Sasaran penilaian awal sedikitnya adalah tingkat penguasaan anak tentang : (1) pengetahuan prasyarat yang dimiliki anak untuk mengikuti pembelajaran (pre-riquisite), dan (2) tujuan pembelajaran yang menjadi sasaran pembelajaran.

Ø Komponen Materi Pembelajaran

materi pelajaran menjadi empat macam yaitu: fakta, konsep, prosedur, dan prinsip (Suprihadi, 1993:60).

Ada dua jenis klasifikasi sumber belajar, (1) resource by design, sumber pembelajaran yang dirancang secara spesifik untuk pembelajaran, (2) resource by utilization

Ø Komponen Proses Pembelajaran

Pertimbangan dalam Pemilihan Proses Pembelajaran

(1) karakteristik tujuan,

(2) karakteristik peserta didik,

(3) karakteristik materi pembelajaran,

(4) kemampuan guru, dan

(5) ketersediaan fasilitas pembelajaran

Prosedur Pembelajaran.

Herbart dalam Moedjiono , dkk. (1996) mengemukakan lima langkah induksi dalam pembelajaran. Kelima langkah tersebut adalah berikut ini.

.Persiapan meliputi: (a) mengemukakan tujuan pembelajaran secara jelas kepada siswa; (b) memberi pandangan ke depan bahwa apa yang dialami siswa akan membantu pemahaman materi.

a. Penyajian

b. Komparasi

c. Generalisasi

d. Penerapan

Pola-pola Interaksi Pembelajaran

Pola interaksi berhubungan dengan cara bagaimana interaksi siswa dengan sistem lingkungan belajarnya. Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat tiga klasifikasi pola interaksi pembelajaran (Depdikbud-Dikti, 1980:45-46), yakni berikut ini.

a. Pola Presentasi

b. Studi Independen

c. Interaksi

Ø Komponen Media dan Sumber Belajar

Ø Komponen Penilaian

v penilaian perencanaan program

v penilaian proses pembelajaran

v penilaian hasil-hasil pembelajaran.

BAB VI

MANAJEMEN STRATEGI PEMBELAJARAN

A. Pengertian Strategi Pembelajaran

Strategi memiliki dua hal, (1) perencanaan tindakan secara sistematis dan, (2) implementasi perencanaan dalam tindakan di lapangan. ( Al Hakim S. dkk.; 2002:80). Dan ujung dari penggunaan strategi adalah memenangkan pertempuran.

Strategi pembelajaran merupakan bagian dari keseluruhan komponen pembelajaran. Strategi pembelajaran berhubungan dengan cara-cara yang dipilih guru untuk menyampaikan materi pembelajaran. Cara-cara itu, mencakup sifat, ruang lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa. Oleh sebab itu, Hilda Taba menyatakan pula strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih guru dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas bagi siswa menuju tercapainya tujuan pembelajaran (Suprihadi, 1993:94)

Strategi pembelajaran aktualisasinya terwujud dalam bentuk ketetapan mengenai seperangkat tindakan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Cakupan ketetapan tindakan tersebut berdimensional, secara substansial dimensi yang dimaksud antara lain meliputi : (1) setting (latar) pembelajaran, (2) pengelolaan bahan ajar, (3) pengalokasian waktu, (4) pengaturan pola aktivitas pembelajaran, (5) metode, teknik, dan prosedur pembelajaran, (6) pengaturan dalam pemanfaatan media pembelajaran, (7) penerapan prinsip-prinsip pembelajaran, (8) penerapan pendekatan pola aktivitas pembelajaran, (9) pengembangan dan pengaturan iklim pembelajaran.

B. Dimensi-dimensi Strategi Pembelajaran

Dimensi strategi pembelajaran yang dimaksud, perwujudannya berkenaan dengan aspek: (1) setting (latar) pembelajaran, (2) pengelolaan bahan ajar, (3) pengalokasian waktu, (4) pola pengaturan bentuk pembelajaran, (5) metode, teknik, dan prosedur pembelajaran, (6) pemanfatan dan penggunaan media pembelajaran, (7) penerapan prinsip-prinsip pembelajaran, (8) penerapan pendekatan pola aktivitas pembelajaran, (9) pengembangan iklim pembelajaran.

C. Perencanaan Strategi Pembelajaran

Langkah-langkah perencanaan yang meliputi (1) identifikasi persoalan/kebutuhan, (2) merumuskan tujuan dan sasaran, (3) identifikasi pembatas-pembatas—kekuatan dan kelemahan, (4) proyeksi dan antisipasi kedepan, (5) penelusuran alternatif kegiatan dan , (6) penyusunan rencana tindakan yang dipilih. ( Al Hakim S. dkk; 2002:80).

Menyusun rencana strategi pembelajaran, ada tiga hal yang perlu dicermati guru: (1) pada variabel-variabel penentu strategi, dan (2) substansi strategi, (3) jenis-jenis dan bentuk strategi yang akan digunakan.

Variabel-variabel penentu dalam perencanaan strategi menurut meliputi: (1) variabel tujuan pembelajaran, (2) variabel materi pembelajaran, (3) variabel kemampuan diri guru, (4) variabel kemampuan siswa, (5) variabel sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia.

Lawrence T. Alexander dan Robert H. Davis dalam Suprihadi (1993: 106) menyebutkan ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran. Faktor tersebut adalah (1) tujuan pembelajaran khusus, (2) keadaan siswa (karakteristik siswa), (3) sumber dan fasilitas untuk melaksanakan dari suatu strategi tertentu, dan (4) karakteristik teknik penyajian tertentu. Keempat faktor tersebut diatas oleh Lawrence T. Alexander dan Robert H. Davis selanjutnya dijelaskan secara rinci sebagaimana uraian di bawah ini.

BAB VII

PROSEDUR DAN POLA PENGATURAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

A. Pengertian

Pola kegiatan pembelajaran berkenaan dengan kemungkinan variasi pola dalam arti macam dan urutan umum perbuatan pembelajaran

B. Struktur Pembelajaran

Struktur pembelajaran efektif pada dasarnya mencakup komponen : (1) pendahuluan pembelajaran, (2) penjelasan dan klarifikasi isi pembelajaran secara jelas, (3) monitoring terhadap pemahaman anak, (4) pemberian waktu untuk praktek/berlatih, (5) fase penyimpulan dan penutupan pembelajaran, (6) pendalaman secara terstruktur maupun mandiri dan review.

Berdasar alur proses pemahaman individu terhadap obyek tersebut, maka proses pembelajaran dapat distrukturkan dengan pola GASE tersebut. Untuk itu, maka langkah-langkah pembelajaran dapat distrukturkan kedalam tujuh fase pembelajaran yang meliputi (1) fase motivasi, (2) fase eksplorasi, (3) fase intensifikasi, (4) fase elaborasi, (5) fase signifikasi, dan (6) fase evaluasi, (7) Follow up

Herbart dalam Moedjiono , dkk. (1996) mengemukakan lima langkah induksi dalam pembelajaran. Kelima langkah tersebut adalah berikut ini.

a. Persiapan meliputi: (a) mengemukakan tujuan pembelajaran secara jelas kepada siswa; (b) memberi pandangan ke depan bahwa apa yang dialami siswa akan membantu pemahaman materi.

b. Penyajian. Pada tahap ini data-data yang berhubungan erat dengan masalah-masalah yang harus dipecahkan dikemukakan pada siswa.

c. Komparasi - Abstraksi. Data-data itu diperbandingkan dan dianalisa secara seksama untuk menunjukkan keterkaitan yang dapat dipergunakan selanjutnya untuk menemukan implikasinya.

d. Generalisasi. Pada tahap ini unsur-unsur kesamaan dan perbedaan dikemukakan bersama sebagai bukti untuk menemukan implikasinya secara pasti.

e. Penerapan. Kesimpulan yang diperoleh diterapkan dalam berbagai situasi untuk memperjelas signifikasi kesimpulan yang diperoleh terdahulu.

C. Pola Dasar Kegiatan Pembelajaran

Pola Presentasi

Pola Studi Independen

Pola Interaksi

D. Variasi Pola pengaturan Pembelajaran

1. Pola Pengaturan Guru dalam Pembelajaran

Pola Pembelajaran dengan Seorang Guru.

Pembelajaran Melalui Team

2. Pola Pengaturan Siswa dalam Proses Belajar.

Pola Pembelajaran klasikal

Pola Pembelajaran Kelompok Kecil (5--7 anak)

Pola Pembelajaran Individual atau Perorangan

3. Pola Pengaturan Hubungan Guru – Siswa

Pola Kegiatan Pembelajaran Tatap muka

Pola Kegiatan Pembelajaran dengan Perantaraan Media

4. Struktur Peristiwa Pembelajaran

Pola Struktur terbuka

Pola Struktur Tertutup

5. Pola Peranan Guru dalam Pengelolaan Pesan

Pola ekspositori

Pola Heuristik atau Hipotetis

6. Pola Pengorganisasian Pesan

a. Pola Induktif

b. Pola Deduktif

BAB VIII

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

A. Pengantar

Model pembelajaran dilihat dari sudut siswa merupakan model belajar. Model pembelajaran didisain secara khusus untuk kepentingan macam-macam belajar dan membantu siswa dalam belajar yang lebih efektif. Dengan model belajar tersebut, siswa dibantu dalam proses pemerolehan informasi dan gagasan, pemerolehan keterampilan, nilai, cara-cara berfikir, alat untuk berekspresi diri. Model pembelajaran juga membelajarkan siswa tentang bagaimana belajar (BruceJoyce dan Marsha Weil, 1992: 1).

B. Jenis-jenis Model Pembelajaran

1. Famili Model Pembelajaran Interaksi Sosial (Social Family)

(1) model investigasi kelompok,

(2) role playing,

(3) jurisprudential inquiry.

2. Famili Model-model Pemrosesan Informasi

v model berpikir induktif

v model latihan inquiry

v model penguasaan konsep

v model perkembangan kognitif

v model advance organizer

3. Famili Model-model Personal

1. Model Pengajaran Nondirective

2. Model Pertemuan Kelas

C. Model-model Mengajar Behavioral

1. Model Contingency Management

2. Model Assertiveness Training


Manajemen Diklat

Keikutsertaan menciptakan belajar paling sesuai untuk kebutuhan saat ini mereka. Permintaan tempat pendekatan ini keduanya pada instruktur dan pada pelajar yang membedakan dari itu dipaksakan oleh kelas tradisional memberi kuliah model.

Peran dari instruktur

Sebelum sesi berawal, paling tidak beberapa yang murid telah mengamati model instruktur satu buka dan pendekatan kolaboratif seperti bagian dari penilaian kebutuhan tahapkan. Pohon instruktur untuk memusatkan pada aspek hubungan antar pribadi dari sesi kompleks dan pekerjaan enak dari terlibat dalam dialog dengan pelajar sebagai satu colearner, buka ke ide baru dan tantangan ke pokok pembahasan, tapi dengan kuat di con­trol dari semakin group melalui belajar terencana tugas.

Peran dari instruktur sebagai ditentukan oleh Vella adalah satu sesuatu hadapi tantangan. Seperti dia atau dia mendisain sesi dan melibatkan partisipan awal pada bengkel, instruktur yang punya satu peran aktivis. Satu kali murid sibuk dengan tugas belajar, instruktur harus berlatih pengekangan penuh perhatian. Dia atau dia harus mengijinkan murid untuk melaksanakan tugas belajar tanpa campur tangan. Dia atau dia memonitor aras tenaga pada group, meminta satu perubahan pakta kalau menggolongkan tampak kehilangan uap air atau ban tugas berhadapan dis­tracted di tangan.

Bagaimana mungkin instruktur menjadi bertanggung jawab ke peserta untuk mengajari pokok materi dari ress­sion yang tersisa mau mendengarkan ke peserta sebagai dewasa dan decisionmakers, Vella selesaikan kontradiksi ini, di bagian, dengan mencirikan di antara kedua-duanya jenis dari "bersuara" tayang pada kelas. Instruktur yang punya deliberative bersuara di disain obyektif dan tugas belajar. Peserta yang punya suara konsultatif; yang, mereka mungkin membuat dikenal pendapat mereka, tapi instruktur yang punya perkataan akhir. Ketika peserta bekerja di group kekecilan pada tugas mereka, peran dipesan: Murid yang punya deliberative bersuara pada bentuk produk mereka akan ambil, dan instruktur yang punya peran konsultatif; dia atau dia mungkin menyediakan nasihat ketika minta, dan murid bebas untuk mengikuti ini atau tidak, saat mereka melihat nyala. Ini adalah consul­tative ini peran yang beberapa instruktur melatih pada sistem bidang pendidikan tradisional menemukan diffi­cult. Vella mendeskripsikan peran cara ini: "Apa itu tugas dari instruktur pada semua ini?” — Ini adalah untuk menduduki masih, untuk perhatikan, dan untuk diam. Partisipan membahas tugas dengan mandiri adalah cara mereka untuk belajar, dan apapun ' pertolongan tidak diundang ' instruktur genteng depan dapat menghadang bahwa proses sulit dan manjur" (Vella, 1995p. 47).

Vella membandingkan peran dari instruktur ke tersebut satu tempat duduk belakang dr. ver atau satu pelatih sport: Pelajar adalah terpenting performen dari tugas, tapi instruktur hadir untuk menyediakan dukungan untuk mengamati dan memberikan umpan balik, dan untuk menjawab pertanyaan.

Peran dari Pelajar

Dari awal satu perikatan, pelajar yang memusat instruktur mempertunjukkan satu persetujuan yang mengikat agar adalah satu mitra di dialog, tak satu pun pontificator pada satu tubuh tertentu dari konten. Model instruktur menghormati untuk leamer, nya atau kebutuhannya, waktu, dan perlukan untuk keterkaitan dan ketergesaan. Asa instruktur untuk mengundang pelajar jauh dari kepercayaannya pada instruktur seperti satu-satunya otoritas. Dia atau dia berharap mengundang pelajar ke arah satu pengenalan dari kebutuhan dan pilihan mereka sendiri sebagai titik awal untuk belajar, dan ke arah satu penghargaan panutan sebagai sumber daya bidang pendidikan.

Pelajar perlukan untuk menerima bahwa pekerjaan nyata dilakukan dalam group kecil. Pekerjaan tidak memerlukan diwawancarai utusan atau dilaporkan pada ke instruktur atau didiskusikan oleh kelas secara keseluruhan untuk ini sah, walau semua hal-hal ini sering terjadi. Apa mendasari belajar primer adalah bahasan diperlukan antara anggota dari group kecil untuk memahami tugas, rencanakan tugas, laksanakan tugas, laporkan pada hasil mereka ke sisa dari group, dan cerminkan di atasnya sukses.

Pendidikan populer mengubah perimbangan kekuatan tradisional tersembunyi pada hubungan pengajaran. Siapa otoritas? Instruktur yang punya posisi formal dan tanggungjawab dari perencanaan dan budidaya satu sesi belajar sesuai. Stu­dents, bagaimanapun, apakah otoritas pada apa mereka perlu mempelajari dan kenapa. Kedua-duanya datangi bersama-sama, pada satu disiapkan dengan baik leamer memusat sesi.

Prinsip untuk Dewasa Efektif Mempelajari

Melaksanakan satu penilaian kebutuhan saksama dan mendirikan dialog di antara instruktur dan murid adalah titik awal kritis. 12 prinsip menyediakan di Tabel 12.2 fitur penting lain sorot dari pelajar yang memusat pendekatan: satu lingkungan hormat, pelajar bekerja di keterampilan minyak pasukan dengan langsung rele­vance, kebutuhan untuk peran tergambar jelas untuk instruktur dan murid, dan kebutuhan untuk secara cenderung dan psychomotor seperti halnya perikatan teori.

Tidak ada

Prinsip

Uraian

1

Perlukan Assesment

Paling tidak satu contoh dari peserta harus termasuk dalam langkah planing dari satu sesi pelatihan. Dengan cara ini dialog di antara instruktur dan murid memulai bahkan sebelum satu secara langsung rapat.

2

Keselamatan

Tugas didisain untuk memasangkan dan zanall golongkan, pro­ viding satu lingkungan selamat untuk pengalaman berbagi dan keterampilan baru praktek.

3

Hubungan bunyi

Instruktur adalah satu pelatih, siap sebagai satu sumber daya untuk menolong pelajar melaksanakan tugas kelas. Instruktur perlukan untuk terlibat dalam dialog dengan pelajar, tidak untuk menyampaikan keterangan kecuali untuk dikerjakan dengan mereka ke arah pemahaman lagi.

4

Urutan dan Penguatan

Tugas peserta itu terlibat dalam selama kelas harus katut satu kemajuan logis, mengijinkan attend­ees untuk menguasai sederhana dan kurang tugas ancam sebelum maju untuk sesuatu lebih menantang.

5

Praxis

Desain harus merencanakan untuk apa yang peserta akan lakukan, tidak untuk apa instruktur akan lakukan. Semua konten harus disajikan seperti tugas untuk peserta kerjakan di group kekecilan. Diskusi kelompok menganjurkan mencerminkan tugas terlaksana.

6

Hormati untuk pelajar

Pelajar dianjurkan ke panicipate sebagai dewasa, menyediakan modifikasi ke obyektif berlandaskan kebutuhan mereka, berbagi pengalaman mereka, dan membuat keputusan mereka sendiri sekitar bagaimana caranya menyelesaikan tugas.

7

Ide, Rasa, Aksi

Tugas didisain untuk melibatkan sebanyak seperti adanya aspek ini yang dapat dipraktekkan.

8

Ketergesaan

Pelajar harus mampu untuk penemuan satu penggunaan langsung untuk apa mereka sedang mempelajari.

9

Jelas Peran

Perlakuan dengan sesi Pendidikan populer meliputi keduanya deliberative (pengambilan keputusan) dan konsultatif (pemberian nasihat) peran. Instruktur yang punya satu peran deliberative pada penderetan dari tugas, sementara pelajar mempunyai satu peran deliberative di dalam memutuskan satu t opicfor sesi pengajaran praktek mereka.

10

Pekerjaan pasukan

Pelajar mengerjakan terutama semata di group kekecilan dari empat atau enam. Di group ini, semua orang suara dapat didengar. Pertanyaan dapat dimohon masuk satu lingkungan selamat, dan para pemimpin dapat siap memuncul.

11

Perikatan

Tugas harus mengundang keikut sertaan pelajar dari awal

12

Tanggung-jawab

Tumbuhan tetap hijaunya Vella pertanyaan adalah. "Bagaimana mereka mengetahui mereka tahu?" Pelajar mengetahui mereka mengetahui karena yang mereka telah melaksanakan tugas yang sesi didisain untuk ajari.

Penggunaan terbaik

Vela telah pergunakan pendekatan ini secara ekstensif dengan dewasa untuk belajar terkait ke tempat kerja dan di pelatihan program profesional.

Model sukses bergantung kepada motivasi dan perilaku dari keduanya instrucor dan murid. Ini adalah bergantung pada instruktur untuk lakukan berikut:

· Dirikan adialogue dengan murid sebelum sesi memulai melalui penilaian kebutuhan.

· Mempertunjukkan sejak dini itu satu peristiwa belajar berharga adalah penggunaan kemungkinan pro­posed disain.

· Modelkan prinsip pada yang mana desain didasari:

-Keunggulan dari dialog sebagai satu alat belajar

-Kemampuan reaksi genteng untuk keprihatinan langsung

Model juga bergantung pada saat murid siapa

· Sependapat ke satu sangat tinggi participatory dan pengalaman kemasyarakatan.

· Sependapat menerlantarkan konvensi dari keterangan dahan gelap dari otoritas tunggal, instruktur.

Sukses dari model dengan berat bergantung pada mutu secara cenderung dari instruktur. Permintaan ini satu instruktur yang dengan sebenarnya buka, curiga, dilibatkan, dan bersikap toleran dari kerancuan dan spontanitas. Permintaan ini satu akan instruktur untuk melibatkan sebagai satu sama pada proses belajar. Permintaan ini satu instruktur yang dapat memastikan bahwa belajar terencana tugas ambil tempat, tapi yang dapat mempertimbangkan ciri khas di jalannya tugas dilaksanakan.

Kunci adalah itu pokok pembahasan harus ditangani pada satu bersikap masalah cara, mengijinkan partisipan untuk berhubungan ini untuk keprihatinan sehari-hari mereka dan daya tarik.

Sementara kebanyakan dari contohnya Vella membusurkan ambil dari tidak mencari keuntungan, Pendidikan, dan sektor pemerintah, pendekatan ini juga dapat dipergunakan di dalam dipilih jalan pada untuk dunia bagan. Ini penyesuaian, pendekatan pribadi mungkin paling berguna untuk satu group dipungut tangan dari baru saja karyawan diadakan diperuntukkan untuk jejak puasa eksekutif atau untuk satu khusus pada taraf yang tinggi gugus tugas menggabungkan selesaikan satu masalah kritis. Ini dapat biasanya memperkenalkan satu keterampilan atau konsep untuk group kecil jika dimana implementasi berada mengharapkan alami daya tahan, dan ketika mesponsori organisasi sedang menghendaki untuk menginvestasikan perlu waktu untuk mendengar titiknya peserta dari pandangan.

Pendekatan tidak mendorong ke implementasi widescale untuk karyawan sejumlah besar. Ini akan jadilah lebih sambut di organisasi yang menganjurkan keaneka ragaman dan diri ekspresi dibandingkan di organisasi kemana mengontrol dan lengkok pemufakatan gol. Ini adalah bekerja keras intcensive dan Pendidikan intensive hubungan, sangat tinggi menyesuaikan ini untuk masing-masing group kekecilan dari pelajar. Gol adalah untuk menciptakan satu peristiwa unik, mau mendengarkan ke satu termasuk semua terbelit yang perorangan. Demikian satu peristiwa mengambil satu berpengaruh nyata sejumlah waktu untuk persiapan dan daya berpengaruh nyata untuk pelaksanaan.

Pendidikan populer mendekati juga mendorong ke satu adopsi parsial ketika satu total implementasi tidak kemungkinan. Partisipan Soliciting reaksi untuk mengajukan obyektif, menyajikan beberapa kalau tidak semua pokok pembahasan seperti tugas untuk group kekecilan agak dibandingkan pada satu format ceramah kuliah, memastikan semua partisipan dipanggil oleh sebut disukai mereka---aspek ini dari satu pelatih memusat pendekatan dapat sering menjadi termasuk sebagai satu partisipan dari lebih sesi tradisional. Vella sekarang ini menulis satu kolom bulanan untuk conven penerbitan bulanan dari Konferensi Profesional Asosiasi Manajemen. Dimana dia menyajikan pelajar memusat ide yang dapat disesuaikan ke satu formil konferensi khas. Salah satu saran dia adalah untuk mempergunakan satu format group kekecilan untuk satu jadwal "panel diskusi," tapi untuk menugaskan masing-masing panel anggota ke satu tabel berbeda untuk mengerjakan tugas seiring dengan partisipan (Vella, 1999).

Pendidik mempergunakan aspek dari pelajar yang memusat pendekatan dengan group tertentu dari anak-anak yang punya menggagal in—or telah digagal sekolah tradisional by—more tersetel. Program untuk mengaruniai anak-anak mungkin untuk menyediakan kesempatan untuk murid ke pur­sue daya tarik mereka sendiri. Program untuk anak belasan tahun ganggu mungkin termasuk kelas kecil dan ketinggian instruktur rasio murid dengan niat dari perbantuan perkembangan hubungan pribadi damping. Apa yang anak-anak ini punya secara umum?

Satu rasa bersih dari penggerak mereka sendiri, kebutuhan, dan daya tarik; satu penolakan dengan pasif dan dengan tanpa nama berjalan melalui satu sistem bidang pendidikan; dan suatu kebutuhan untuk mempunyai ciri khas mereka akui adanya dan menyatakan sebelum mereka merasakan cukup dihormati dan cukup terjamin untuk pelajari. Dewasa punya kebutuhan ini, juga, dan satu pelajar memusat pendekatan dapat dengan sukses menjumpai kebutuhan ini di bermacam-macam setelan

Teliti Dukungan

Meskipun demikian dia menguasai surat kepercayaan akademis, Vella mempertimbangkan sendiri satu practitioner—working dan cermin pada apa dia adalah belajar dan memodifikasi dia mendekati seperti needed—rather dibandingkan satu reseacher akademis. Dia adalah continu­ously menyuling dia mendekati melalui berdua pengalaman dan laporannya sendiri dari murid melatih di dia mendekati seperti Jubillee Pengikut trought Jubillee Pendidikan populer Pusat.

Modelkan di Aksi

Vella dengan sukses telah berlatih dia dekati di bermacam-macam setelan. Ini terbentang dari dua sesi jam pada bagaimana caranya merencanakan rapat sukses ke satu sesi minggu untuk ahli pengobatan di Banglades pada hidrasi dasar pengajaran prinsip. Dua lengkok contoh memberikan sini.

Pelajaran Inggris untuk pekerja pindah Hailian, dideskripsikan lebih awal, gambarkan sev­eral dari 12 prinsip. Vella mampu untuk mendirikan satu hubungan penuh keberhasilan di antara her­self dan pelajar dengan mempelajari beberapa dasar ungkapkan di Keturunan Prancis Luisiana dari mereka pada rapat terbaik, membuka sendiri sampai bagai ramah dan pertunjukan sendiri menghendaki satu pelajar sebelum dia mulai ajari. Dia mampu untuk mendirikan dialog bahkan pada absensi dari satu bahasa umum (hubungan bunyi). Dia menggabungkan satu secara cenderung murah hati oleh sebut penggunaan dari anggota keluarga Haiti pada Kalimat Inggris. Dia membor murid pada alun suara baru dari Bahasa Inggris dengan bekal mereka drum terbongkar pola kalimat pada tembok (ide, rasa, dan tindaki).

Satu contoh detik, mengajari pekerja pembangunan komunitas pada Negeri Nepal pedesaan, high­lights beberapa emisi yang sama pada satu setelan berbeda. Vella mengendali satu kereta api pelatih sesi dengan Penyelamatan bidang Anak-anak mengorganisir pekerjaan di daerah pedesaan. Partisipan diinap di tenda, tapi tidak ada kelas mengatur jarak terikat telah disediakan. Vella menagih group untuk menemukan satu setelan itu dapat dipergunakan sebagai satu kelas. Walau yang dia telah memperhatikan satu dekat cucur terlantar dan telah mengagumi kalau ini mungkin melayani sebagai satu kelas, dia tidak menyarankan penggunaan dari cucur sendiri. Ketika anggota dari group yang temukan cucuran dan disarankannya, setujui dia. Group yang dikerjakan bersama-sama untuk membebaskan dari percabulan cucuran.

Vella mempergunakan contoh ini untuk menggambarkan prinsip dari hormat untuk pelajar. Bahkan sebelum bagian formal dari sesi pelatihan awali, Vella melibatkan partisipan seperti perancang co dari pengalaman belajar mereka sendiri.

Pemandu implementasi

Untuk itu familier ke instruktur tradisional memusat intervi model, pelajar yang memusat pendekatan memerlukan satu penyesuaian berpengaruh nyata. Permintaan pada instruktur adalah pantas dipertimbangkan: Instruktur perlukan untuk terlibat dalam dialog dengan stu­dens dari awal proses perencanaan dan harus akan untuk membiarkan sponta­ kelas interaksi neous pimpinan keduanya dia atau dia dan murid pada arah tidak diantisipasi. Bagaimanapun, Vella tujuh tahapan perencanaan, 12 prinsip untuk efektif teaming dewasa, dan daftar nama dari kemampuan ke arah desain efektif di popu­ Pendidikan lar menyediakan bersih hicclimis seperti untuk bagaimana caranya berawal.

Langkah

Aksi

Sebelum Sesi

1

Mengumpulkan keterangan sekitar pelajar dan belajar mereka perlukan. Libatkan sam­ple dari pelajar pada tujuh tahapan perencanaan, dengarkan untuk "generatif" tema.

2

Identifikasi keterampilan, pengetahuan, dan sikap diajari

3

Mengembangkan perampungan bassed obyektif.

4

Kembangkan dan urutan group kecil tugas partisipan itu akan laksanakan untuk mencapai obyektif. Liputi berdua satu pemanasan (dinginkan hempasan ombak) tugas dan satu clos­ing (ringkasan) tugas. Pergunakan 12 prinsip untuk bimbingan.

5

Pergunakan daftar nama dari kemampuan untuk memastikan satu desain bunyi (melihat halaman 259).

6

Persiapkan buku catatan dan semua sumber daya kelas tambahan

7

Persiapkan untuk evaluasi dengan mengidentifikasi akibat diramalkan dan hasil.

Selama Sesi

1

Diskusikan obyektif dengan peserta dan memodifikasi mereka sebagaimana diperlukan

2

Membuat sendiri yang dapat diakses saat partisipan mengerjakan meskipun demikian tugas mereka.

3

Monitor aras tenaga pada clussroom. Jadilah mempersiapkan tukarkan gigi persneling kalau motivasi sepertinya berkibar. Mencampurtangan sebagaimana diperlukan kalau keprihatinan langsung perlu mengambil hak yang lebih tinggi berlalu agenda terencana.

4

Dengan teliti mengamati interaksi group; waspada kepada melepaskan atau nilai kurs atau valuta asing ganggu ticipants. Perbincangkan seseorang pada satu dengan satu partisipan ganggu kalau perlu

5

Dirikan satu rencana untuk followup dan dukungan untuk murid setelah sesi.

6

Laksanakan evaluasi perkembangan sepanjang sesi (sebagai contoh pada akhir dari masing-masing hari pada satu sesi multiday).

Setelah Sesi

1

Cerminkan sesi dan memutuskan apa yang mungkin perlukan dimodifikasi untuk kurban berikutnya. Ini adalah praxis

2

Evaluasi sesi berlandaskan mengharapkan hasil.

3

Dialog dengan Pendidikan populer yang lain ide toshare dan dukungan keuntungan.


TI(Teknologi Informasi) vs SI(Sistem Informasi)

1. Teknologi Informasi adalah teknologi yang berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran data (informasi) tersebut dalam batas – batas ruang dan waktu.

2.


TI

SI

Kesamaan

Teknologi yang berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran data informasi tersebut dalam batas – batas ruang dan waktu.

Suatu kumpulan dari komponen – komponen dalam perusahaan atau organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi.

Perbedaan

TI lebih menekankan aspek teknologi yang tepat untuk digunakan dalam menunjang semua kegiatan SI.

SI merupakan sistem yang menyediakan informasi bagi penggunanya.

3. a) Arsitektur Teknologi Informasi adalah serangkaian prinsip, guidelines, gambaran, standard, dan aturan yang mengarahkan organisasi membangun, memodifikasi, mempertemukan sumber teknologi informasi.

b) Infrastruktur Teknologi Informasi adalah prasarana yang menjadi bagian isi dan ruang lingkup arsitektur.

4. Kelemahan : Terbatasnya dana untuk menambah lahan, gaji tenaga pengajar, serta terbatasnya sumber daya manusia yang berkompeten dalam bidang TIK

Kekuatan : Membantu setiap penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.

5. Kelebihan : Proses penyampain materi ajar yang akan ditransformasikan kepada peserta belajar dapat lebih efektif dan efisien.

Kekurangan : Proses pembelajaran menjadi cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.