Senin, 04 Januari 2010

DIFUSI INOVASI KBK KE LEMBAGA PENDIDIKAN

DIFUSI INOVASI KBK KE LEMBAGA PENDIDIKAN

MAKALAH

 

     Untuk memenuhi tugas mata kuliah Divusi Inovasi Pendidikan

yang dibina oleh Ibu. Dra. Susulaningsih

Oleh

Akhmad Fakharuddin             108121409945

Tossy Aguk Satriangun          1081214099

Hevyana Devi                         1081214099

M. Saifuddin Zuhri                 1081214099

 

TEP /A/ 2008

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

MEI 2009

PENDAHULUAN

Model kurikulum pendidikan di Indonesia hari ini masih belum bisa dilepaskan dari keterlibatan peran pengajar secara penuh. Sejak TK hingga perguruan tinggi para siswa terbiasa duduk mendengarkan guru berceramah. Jika ada yang bertanya, maka si murid dianggap bodoh atau malah ditertawakan. Tanpa disadari, tradisi proses belajar-mengajar seperti ini lambat-laun sudah mendarah daging.

Dalam panduan KBK, dijelaskan bahwa kompetensi sebenarnya merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Penjelasan tersebut menyiratkan apa yang dipikirkan dan dilakukan harus mencerminkan nilai-nilai dasar pengetahuan dan keterampilan dari apa yang didengar, dilihat, dan dipraktikkan baik dari pengajar, buku panduan, buku perpustakaan, media cetak, media massa, laboratorium, maupun dari informasi-informasi lainnya.

Permasalahannya, signifikansi KBK masih diragukan. Hal ini dikarenakan variabel-variabel yang berperan di dalamnya seperti: siswa, institusi sekolah, sarana dan prasarana ternyata masih semrawut dan jauh dari standar kelengkapan. Terlepas dari peran serta variabel yang lain, ada beberapa hal yang mengindikasikan ketidaksiapan dalam menerima KBK:

Pertama, perilaku belajar siswa saat ini masih one way traffic (belajar satu arah). Mereka menganggap bahwa fungsi guru yang seharusnya, yaitu sebagai information sharer dan merupakan ciri khas KBK sudah mulai berkurang. Implikasinya, ketika di luar bangku sekolah dan tidak ada tugas dari guru, siswa cenderung melakukan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang ditekuni. Mereka lebih senang main play station, ngrumpi, dan bermain untuk menghabiskan waktu. Akibatnya, siswa kurang mampu berpikir dan bertindak kreatif karena masih menganggap guru adalah segalanya.

Kedua, motivasi belajar yang  sangat rendah. Siswa saat ini malas membaca buku, kurang berminat mengulang-ulang pelajarannya, bekerja kelompok, dll. Kebanyakan dari mereka lebih senang menyaksikan sinetron, drama, atau nonton konser.

Ketiga, kreativitas dan inovasi siswa di dalam sekolah juga rendah. Hal itu berbanding terbalik dengan esensi dari KBK sendiri yang mengharuskan lulusan memiliki skill dan kreativitas yang tinggi. Kreativitas tersebut baik di bidang organisasi kesiswaan maupun dampaknya bagi masyarakat

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan acuan kurikulum baru baik di sekolah dasar, menengah, bahkan perguruan tinggi, Memberi ruang bagi guru dan siswa untuk bereksplorasi bersama dalam proses pembelajaran. Bahkan KBK menyaratkan bahwa proses pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. Proses pembelajaran harus memberi kesempatan dan ruang yang lebih besar bagi peserta didik untuk dapat bereksplorasi, mengalami, menemukan, dan juga menguji pemahaman sendiri dengan terus-menerus bertanya dan mempertanyakan apa yang dipelajari. Maka dari itu, sudah selayaknya pendidikan diterapkan dalam KBK secara utuh. Sebab ini pintu pertama dalam menumbuhkan sikap kritis, Serta tidak hanya sekadar dijadikan percontohan.  Oleh karena itu, spirit pendidikan serba bertanya akan dapat mengembangkan sikap kritis, membangun kepercayaan diri, menumbuhkan sikap menghargai diri dan memiliki kemandirian berpikir. Begitulah gambaran kecil kondisi pendidikan Indonesia yang pada umumnya setara dengan polemik sistem pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

A. Elemen Difusi Inovasi KBK

     1. Inovasi

Dalam hal ini KBK merupakan hal yang baru bagi target(sasaran). Baru dalam artian belum pasti atau mengandung ketidaktentuan. Karena masih mengandung beberapa alternatif.Dan dengan adanya informasi tentang KBK maka berarti mengurangi ketidakpastian dan memperjelas arah KBK kepada target.

2. Komunikasi

Dalam proses komunikasi ini kami memanfaatkan saluran media massa yang ada di daerah tersebut(radio dan suratkabar) untuk menyampaikan informai tentang adanya seminar penyuluhan. Seminar penyuluhan ini ditujukan kepada semua kepala sekolah. Dan akan membahas tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi(KBK) dengan maksud agar para kepala sekolah ini mengetahui dan menyadari tentang adanya inovasi tentang KBK dan diharapkan mampu menerapkannya pada lembaga pendidikan yang mereka pimpin. Dan untuk lebih mengefektifkan proses komunikasi kami juga menggunakan buku modul(media pembelajaran)tentang KBK yang dibagikan kepada tiap-tiap kepala sekolah untuk lebih memperdalam pemahamam mereka dan bisa dijadikan pedoman bagi tiap tiap sekolah.

3. Waktu

Setelah mengadakan penyuluhan kepada para kepala sekolah sangat mungkin sekali difusi inovasi ini tidak berjalan lancar. Maka kami akan turun ke beberapa sekolah yang di anggap kurang unggul untuk memberikan motivasi dengan pendekatan secara langsung kepada kepala sekolah dan para dewan guru yang ada. Dan kami juga akan turun ke sekolah yang dianggap unggul untuk mengukur sejauh mana perkembangan KBK disekolah tersebut. Dan perlu adanya hubungan antara kami(agen pembaharu) dan para kepala sekolah untuk tindaklanjut lebih jauh atas perkembangan KBK di daerah itu secara keseluruhan.

 

 

4. Warga Masyarakat

Proses difusi melibatkan hubungan antar individu dalam sistem sosial. Maka jelaslah bahwa masyarakat akan terpengaruh dan juga mempunyai pengaruh dalam proses difusi inovasi KBK ini.Dalam hal ini semua lapisan masyarakat mempunyai peranan dalam perkembangan difusi inovasi ini. Warga masyarakat ini disebut anggota sistem sosial. Dengan demikian mereka terikat satu sama lainnya. Maka keberhasilan difusi inovasi KBK ini menjadi tanggung jawab guna mencapai tujuan bersama.

B. Penggunaan Strategi difusi inovasi KBK.

Ketepatan menggunakan strategi merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan efektifitas pelaksanaan dalam proses difusi. Dalam proses ini kami menggunakan beberapa strategi perubahan sosial beserta alasan penggunaannya:

       I.            Strategi Fasilitatif

- Klien memerlukan perubahan dan perbaikan  model pendidikan

- Klien menyadari perlunya mencari target perubahan (tujuan)

- KBK menciptakan peran baru dalam pendidikan.

- KBK merupakan hal yang baru bagi mereka dan belum dikenal sebelumnya

II.           Strategi Pendidikan

- Perubahan sosial ini tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi dilaksanakan secara bertahap dan  berkelanjutan.

- KBK sendiri diharapkan merubah pola tingkah laku yang ada sebelumnya  ke tingkeh laku yang baru

- Perubahan sosial ini desetrai dengan keterlibatan dari berbagai pihak serta berbagai penunjang yang lain.

III.       Strategi Bujukan

- Dimanfaatkan untuk melawan penolakan terhadap perubahan pada saat awal diperkenalkan perubahan sosial yang diharapkan.

- Agen pembaharu tidak memiliki alat kontrol langsung terhadap klien. Oleh karenanya agen pembaharu harus terampil dalam menyampaikan KBK dengan baik dan menarik.

 

C. Tujuan Difusi Inovasi KBK

            - Memberi pengertian tentang KBK dan penerapannya disekolah

            - Merubah sitem kurikulum yang lama dengan KBK

            - Tercipta kerjasama semua pihak agar memilik tanggung jawab bersama dalam pendidikan           

 

PENUTUP

A. Simpulan

Melalui KBK, diharapkan setiap lembaga pendidikan memiliki kekhususan (center excellent) yang berbeda dengan lainnya. Sistem seperti itu seharusnya dapat diterapkan pada semua jenjang di mana lulusannya diharapkan mampu menjadi analis keilmuan yang handal. Bagaimana pun juga, apa yang terjadi di era globalisasi menuntut kondisi yang lebih cepat dan sinergis dalam menghadapi persoalan-persoalan ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.

Memang tidaklah mudah mengubah suatu hal yang sudah menjadi tradisi, terutama di dunia pendidikan. Dibutuhkan kerja keras dan kebersamaan dari semua pihak yang berkepentingan agar pelaksanaan KBK sesuai dengan yang di harapkan.

B. Saran

Dari  simpulan diatas disrankan kepada agen pembaharu agar dapat memahami dengan benar karakter dan keadaan wilayah sasaran(target)setempat agar perubahan social yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

 

C. Referensi

Ibrahim. 1988. Inovasi pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0502/12/opi02.html

 

    

 

 

           

Pendidikan Orang Dewasa Melalui Pendidikan Dan Pelatihan

   Pendidikan Orang Dewasa Melalui Pendidikan Dan Pelatihan

MAKALAH

                 Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Andragogi

yang dibina oleh Ibu Dr. Anastasia W

     Oleh :

 

Akhmad Fakharuddin                     108121409945

Moh. Sirojul Munir                           108121409946

Muhammad Bariksah                       108121409943

Rivaldi Kurniawan                           108121409948

Addin Sudrajat                                 108121409988

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

DESEMBER 2009

 

Bab I. Simpulan

 

1. Pengertian andragogi

Andragogi adalah proses melibatkan peserta didik yang dewasa kedalam suatu struktur pengalaman belajar dan merupakan seni dan ilmu pengetahuan yang membantu orang dewasa dalam belajar. Maka kalau dikumpulkan dapat disimpulkan bahwa andragogi secara harfiah diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Dan dalam andragogi, yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).

 

2. Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu:

-                      Metode Ceramah

-                      Metode Tanya jawab

-                      Metode Diskusi

-                      Metode Demonstrasi

-                      Metode Simulasi

-                      Metode Jigsaw

-                      Metode Kerja Kelompok

-                      Metode Penemuan

-                      Metode Think Pair Share

-                      Metode Think Pair Square

-                      Metode Keterampilan Proses

 

3. Model pembelajaran bagi orang dewasa:

Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif, dalam proses belajar. Maka model pembelajaran bagi orang dewasa sebaiknya menggunakan model konstruktivistik, agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien, dengan cara lebih mengutamakan apa yang peserta didik perlukan dalam kebutuhan belajarnya.

PEDAGOGI

ANDRAGOGI

-                      Anak-anak

-                      Behavioristik

-                      Formal

-                      Perhatian terpusat

-                      Tidak mandiri

-                      Terbimbing

-                     Pribadi yang bergantung kepada  gurunya

-                      Orang dewasa

-                      Humanistik dan konstruktivistik

-                      Non-formal

-                      Pengembangan pikiran

-                      Mandiri

-                      Bertanggung Jawab

-                      Semakin mengarahkan diri

4.

 

 

 

 

 

 

PSIKOLOGI

ANDRAGOGI

-                      Ilmu Kejiwaan

-                      Semua umur

-                      Disiplin ilmu

-                      Ilmu pendidikan

-                      Orang dewasa ( ±22 )

-                      Metode terapan

 5.

 

 

 

Bab II. Hasil Observasi

 

Tempat Observasi       : INDEPENDENT Piranhamas Groups

Bidang  Ahli               : Training Developing Consulting

Sfesifikasi                   : Internet Marketing

Peserta                         : Pengusaha, Karyawan Swasta, PNS.

Alamat                                    : Jl. Ikan Piranha Atas V No. I Malang 65142

 

Pada dasarnya Istilah Seminar, Workshop, Pelatihan, Training, dan Diklat ialah sama. Yaitu penyampaian materi yang khusus kepada peserta didik dalam konsep pertemuan dalam skala besar maupun kecil, dalam waktu yang lama atau singkat, yang bertujuan agar peserta mempunyai keterampilan setelah acara tersebut selesai. Dalam diklat itu sendiri sebenarnya lebih menekankan pada praktek mandiri yang ada dilapangan sebagai hasil terapan dan penilaian sejauh mana tingkat keberhasilan dari diklat tersebut.

 

Pada umumnya, diklat diadakan dalam waktu 5 sampai 7 hari. Bahkan ada yang sebulan atau setahun. Semua itu tergantung pada tingkat kesulitan dan daya tarik dari apa yang akan disampaikan didalam diklat tersebut. Sementara itu diklat terbagi menjadi dua bagian yang harus seimbang. Yaitu : (1) Teori dan (2) Praktek. Dan tentunya mengacu pada standar yang telah ditentukan sebelumnya. Sebagai penilaian maupun evaluasi.

 

Alasan kami memilih Diklat ini karena:

1. Internet Marketing adalah konsep Diklat yang diperuntukkan sebagai mata pencaharian. Dengan kata lain pesertanya adalah orang yang siap atau dalam usia sudah bekerja.

2. Diklat ini menekankan pada keterampilan yang spesifik. Intinya agar keterampilan yang dimiliki tersebut bernilai khusus dan berharga.

Dengan kata lain ada beberapa tujuan dan manfaat yang muncul setelah diklat ini diadakan.

Tujuannya antara lain :

1.  Untuk mendapatkan “pengakuan” proses diklat yakni berupa sertifikat atau semacamnya sehingga akan membantu efektivitas dan produktifitas para peserta dalam menghadapi dunia kerja.

2.  Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini belum banyak diminati masyarakat. Khusunya orang dewasa yang dulunya belum mengenal komputer.

 Manfaatnya antara lain :

1. Membantu mencapai kompetensi lulusan yang professional dibidangnya.

2. Membantu memotivasi dan menekan angka penganguran.

 

Di dalam pelaksanaanya, peserta lebih banyak bertanya saat dia kurang paham tentang materi daripada menunggu waktu dipersilahkan untuk bertanya. Hal itu dikarenakan daya ingat mereka yang cenderung mudah paham dan mudah lupa. Semangat belajarnyapun tidak bisa dimengerti. Karena terkadang terlalu bersemangat atau malah sebaliknya. Maka disini fasilitator sangat mempunyai peran penting dalam segala hal. Kendala yang sering terjadi yaitu pada tingkat kemampuan atau sejauh mana peserta mengenal internet.

 

Disini peserta terbagi menjadi beberapa bagian:

 

A. Begginer

B. Intermediet

C. Expert

 

Dan tentunya cara menangani mereka dalam pelaksanaannya harus dilakukan dengan sabar dan penuh perhatian. Hal ini juga disebabkan karena pada umumnya mereka belum mengenal internet pada zaman mereka ada. Mungkin teknologi juga belum secanggih sekarang. Dan ini merupakan hal yang dimaklumi oleh kita semua.

 

Kelebihan Konsep Internet Marketing di dalam Diklat

1. Internet Marketing tidak memerlukan biaya yang tinggi.

2. Tidak memerlukan Display. Cukup menggunakan sarana yang ada.

3. Bisa dikerjakan diluar jam kerja.

4. Tidak adanya UU, Izin, dan Pajak dalam Internet Marketing.

 

Kekuranggan Konsep Internet Marketing di dalam Diklat

1. Banyaknya Pemikiran negative tentang dunia marketing di internet

2. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang adanya marketing di Internet.

 

Evaluasi

Dalam Internet Marketing ada beberapa bentuk penilaian. Yaitu :

1. Basic Knowledge

2. Trobble Shooting

3. Application

4. Academic Point

Pada dasarnya, semua yang tersebut diatas memiliki acuan dasar dan tujuan sebagai tolak ukur keberhasilan. Tingginya prosentase kehadiran merupakan bukti adanya antusias dari peserta. Begitu juga dalam hal standarisasi penilaian. Serta bimbingan yang merupakan kelanjutan dari rangkaian evaluasi. Tetapi pada pendidikan orang dewasa biasanya bimbingan dilalukan secara tidak langsung. Dalam artian mereka menggunakannya dalam hal pantauan, konsultasi, maupun melihat keberhasilan pesertanya.

Bab III. PEMBAHASAN

 

Inti dari pendidikan adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri untuk berkembang dan matang, dengan mempertimbangkan bahwa mereka juga sebagai makhluk individu dan sosial. Kegiatan pendidikan baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah memiliki daerah dan kegiatan yang beraneka ragam. Pendidikan orang dewasa terutama pendidikan masyarakat bersifat non formal sebagian besar dari siswa atau pesertanya adalah orang dewasa.

Pendidikan dalam konsep Diklat mempunyai banyak pengertian, tetapi secara umum diterima sebagai suatu perubahan perilaku yang cenderung kearah yang lebih baik. Adapun prinsip-prinsip pendidikan yang digunakan pada dasarnya sama dengan apa yang dikembangkan pada beberapa pendidikan dan pelatihan yang menggunakan metode instruksional, tetapi satu hal yang membedakan adalah prinsip-prinsip POD lebih dikenal secara luas.

Prinsip-prinsip dari belajar berkaitan dengan pelatihan dan pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut digunakan di seluruh sektor/area, baik dalam ruang kelas atau sistem magang. Instruksi yang efektif harus menggunakan sebanyak mungkin prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa yang tepat. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan training (pelatihan) dan pendidikan, dan biasanya diterapkan pada situasi kelas formal atau untuk sistem on the job training (magang). Tiap bentuk pelatihan sebaiknya memuat sebanyak mungkin 9 prinsip yang tersebut di bawah ini. Yaitu :

·         Recency

·         Appropriateness (Kesesuaian)

·         Motivation (motivasi)

·         Primacy (Menarik Perhatian di awal sessi)

·         2 – Way Communication  (Komunikasi 2 arah)

·         Feedback (Umpan Balik)

·         Active Learning (Belajar Aktif)

·         Multi – Sense Learning

·         Exercise (Latihan)

 

 

Standar POD atau andragogi di tiap negarapun berbeda. Berikut ini merupakan tabel Perbandingan Tujuan Pendidikan Orang Dewasa di Beberapa Negara :

       

No

Negara

Tujuan

1

Australia

Menekankan tujuan pendidikan orang dewasa pada usaha-usaha

pengasimilasian para pendatang dengan para penduduk yang telah

lama tinggal di Australia.

2

Swedia

Ditujukan kepada pendemokratisan dan menciptakan norma-norma kehidupan masyarakt yang lebih baik.

3

Swiss

Ditujukan untuk menciptakan kehidupan masyarakat lebih berbahagia dan penuh aktivitas.

4

Perancis

Menekankan kepada pendidikan populer bagi masyarakat yang dijalankan secara luas.

5

Israel

Ditujukan untuk mengurangi tantangan antar bangsa-bangsa dan ras dan memerangi atominisasi serta memberikan kehidupan baru kepada masyarakat.

6

Kanada

Meningkatkan kebanggaan dan mengembangkan pengetahuan yang diciptakan oleh bangsa Kanada.

7

Amerika Serikat

Bersemboyankan kepada pendidikan itu dari, oleh dan untuk masyarakat.

8

India

Perbaikan moral, penambahan pengetahuan, meningkatkan efisiensi dalam bekerja, dan meningkatkan tingkat hidup masyarakat.

9

Thailand

Ketahuhurufan, pemeliharaan hidup sehat, kontak sosial dan kebudayaan.

Sumber: Ahmuddipura (1986: hal. 1.16)

 

Prinsip pendidikan juga sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari ‘yang obyektif’, melalui pengamatan atas kenyataan. Dan pada umumnya prinsip tersebut menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah). Inilah yang merupakan inti dari Andragogi. Karenanya hal ini menjadi menarik dan patut untuk dikaji.

Ada beberapa kesenjangan atau hal berselisih yang kami temui antara diklat dilapangan dengan teori andragogi yang telah dikaji sebelumnya, antara lain :

1.  Didalam andragogi peran fasilitator tidak terlalu penting. Dalam hal lain peserta didiklah yang banyak membantu untuk menyempurnakan proses belajar mereka. Tetapi dalam proses diklat hal itu belum sepenuhnya terjadi. Melihat banyaknya presentasi keterlibatan pemateri dan fasilitator dalam proses diklat

2. Dalam diklat itu sendiri hal yang paling utama ialah menekankan keterampilan terpimpin dari proses, hal ini sangat menyimpang dari konsep andragogi yang terkesan memberi keluasan berfikir untuk membentuk suatu konsep dari proses.

3. Dalam andragogi sikap dan perilaku merupakan tolak ukur kedewasaan, akan tetapi hal ini jarang terjadi pada waktu diklat. Kebanyakan dari peserta lebih senang untuk berbicara sendiri atau dalam hal ini fokus mereka dalam memperhatikan materi sangat minim.

4. Diklat itu sendiri merupakan pembelajaran yang berakhir pada suatu titik evaluasi yang cenderung masih memakai nilai rata-rata. Apapun bentuk pembelajaran maka dalam diklat terkesan memaksa peserta dalam menerapkan suatu paradigma yang tersaji. Dengan alasan salah jika mereka tidak sesuai dengan apa yang disampaikan.

5. Didalam diklat, kita akan menemukan suatu konsep ataupun model dari proses diklat itu sendiri. Hal ini sangat berbeda dengan pola andragogi yang terkesan menjadikan peserta menemukan konsep dengan sendirinya dari sumber manapun dan dimanapun.

6. Diklat yang tujuannya orang dewasapun masih terlihat seperti belajar anak-anak. Ribut, pasif, dan kurang bertanya tentang materi yang belum dipahaminya.

7. Diklat belum berhasil secara utuh. Karena banyak yang mengikuti suatu program hanya untuk mendapat sebuah pengakuan atau sertifikat. Menjadikan nilai suatu diklat itu kurang maksimal.

8. Semangat belajar orang dewasa cenderung tidak menentu.

 

Menimbang beberapa hal dari andragogi bahwa :

1. Teori ini merupakan bahan kajian dan terapan yang tidak sepenuhnya berhasil dilaksanakan apabila tidak ditunjang dengan faktor pembantu lainnya.

2. Andragogi juga seakan terlalu memberi kebebasan dan menimbulkan perbedaan yang seringkali ekstrim. Dan sulit untuk mencapai suatu titik temu dari konsep pemahaman serta cara berfikir.

3. Konsep Andragogi lahir bukan dari Negara Indonesia, dan oleh karenanya kebanyakan sumber analisa, sasaran objek serta ragam kultur dan budaya membuatnya terkesan diperuntukkan bagi bangsa barat. Dan belum tepat diterapkan bagi bangsa timur pada umumnya.

4. Manusia sendiri merupakan makhluk yang unik. Memiliki ciri, watak, sifat, dan karakter yang berbeda. Seperti halnya pembelajaran bagi anak dan remaja. Pada andragogi (pembelajaran orang dewasa), masalah yang sering ditemukan tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada pedagogi (pembelajaran anak dan remaja).

 

Dan oleh karena itu maka kami menyimpulkan beberapa hal, antara lain :

1. Semua teori hanyalah merupakan konsep. Pada pelaksanaan dilapangan seperti diklat, seminar, dsb membutuhkan hal lain untuk membantu memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran.

2. Andragogi tidak bisa berdiri sendiri. Oleh karenanya andragogi harus berkolaborasi dengan disiplin ilmu yang lain. Seperti pelajaran Sosiologi untuk lebih memahami kultur dan budaya setempat atau pelajaran Psikologi untuk lebih memahami sifat dan karakter manusia sebelum menerapkan konsep andragogi dilapangan.

3. Tidak semua orang dewasa mampu menjalankan konsep dari teori andragogi ini dengan maksimal. Mereka selalu mempunyai pertimbangan dan alasan berbeda untuk menerima ataupun menolak sesuatu.

4. Pada pelaksanaan andragogi, masih sering dijumpai penyalahgunaan konsep teoritik. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan dan pemberian tanggung jawab.

5. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan seiringnya zaman. Metode andragogi bisa jadi akan lebih terinci atau bahkan memunculkan teori terapan lainnya.

6. Menurut kami, yang terpenting dalam suatu pelaksanaan ilmu terapan bukanlah pada ketepatan metode itu ditujukan, akan tetapi pada kesesuaian metode tersebut ditujukan.

Dan pada akhirnya, semua yang ada pada andragogi adalah benar adanya dan  sangat menarik bagi perkembangan ilmu pendidikan. Teori Belajar Adragogi dapat diterapkan apabila diyakini bahwa peserta adalah pribadi-pribadi yang matang, dapat mengarahkan diri mereka sendiri, mengerti diri sendiri, dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut dirinya. Andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan ideal dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Yang menjadi tolok ukur sebuah kedewasaan bukanlah umur, namun sikap dan perilaku, sebab tidak jarang orang yang sudah berumur, namun belum dewasa. Memang, menjadi tua adalah suatu keharusan dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang tidak setiap individu memilihnya seiring dengan semakin lanjut usianya. Dan bagi pengambil kebijakan dalam hal pembelajaran orang dewasa diharapkan mampu memberikan pertimbangan holistik ke arah pengembangan keterampilan dan peningkatan sumber daya orang dewasa yang berkualitas.